Di tengah masyarakat, eh, lebih tepatnya, di tengah-tengah obrolan orang kecil, jumlahnya pun tal seberapa, muncul pertanyaan, "lebih baik cepat menyelesaikan masalah, walaupun salah, atau biarkan masalah kecil terkatung-katung?"
Pertanyaan itu menggelitik. Disampaikan dalam forum kecil, di mode obrolan santai orang-orang pos ronda, saat jelang malam tiba. Sambil nyeruput kopi yang tersedia, dengan makanan seadanya, dan gaya bahasa pun seadanya, demikian pula, wawasan yang seadananya, tetapi pertanyaannya, kadang serius. Serius, melebihi nalar seorang pejabat negara.
Mereka mengajukan hal itu, setidaknya, karena dilatari oleh pengalaman hidupnya selama ini. Mereka merasakan, di negeri yang didiaminya itu, kerap kali, atau lebih tepatnya, sedang ada dalam keadaan sesuai yang dipertanyakan. Selama ini, ada masalah yang dinggap sepele, kecil, dan sederhana, dan bahkan, bisa diselesaikan dengan sangat sangat sederhana. Tetapi, malah dibuatnya ribet.
Kalau bisa dipersulit, kenapa harus dipermudah !
kalau bisa dijelimetkan, kenapa harus disederhanakan !
"kita tidak mempersulit, dan tidak menjelimetkan diri. Justru orang lain, yang selalu mengajak pada wilayah-wilayah yang rumit. Coba kalau datang, ngobrol langsung, tidak ujug-ujug main polisi, main lapor, mungkin masalah ini, dapat diselesaikan dengan baik-baik..." menurut yang tertuduh.
"kita juga bingung. Mengapa zaman kita ini, dikit-dikit lapor. dikit-dikit pakai aparat, atau polisi. Padahal, sebagian masyarakat sendiri, sangat tidak percaya pada kinerja polisi..."
"itulah masalahnya. Kita ingin, cepat menyelesaikan masalah, tetapi kita sendiri tidak percaya pada aparat, tidak percaya pada hukum, dan tidak percaya kepada pemerintah. ribetlah. Susah menyelesaikan masalah-masalah kehidupan ini...!"
"Kalau memang begitu, terus, apakah memang, keadaan ini, akan terus dibiarkan, dan kita tetap berada dalam pusaran perpolitikan yang murahan? berkutat dalam masalah yang ecek-ecek, dan tidak beranjak diri menjadi bangsa yang dewasa?"
"dalam lisan, kita mengucap ingin menjadi Indonesia emas, dalam tulisan, tertera rancangan visi dan misi kebangsaan yang menghipnotis nalar, tetapi dalam gerak laku, dan pengelolaan, masih saja, menyisakan dan menunjukkan gejala yang tidak memberikan harapan besar.."
"Sudah mah, kasus korupsi masih terus terbongkar, pernyataan elit politik kita, malah menyalahkan rakyat, membingungkan rakyat, dan membuat rakyat gerah dan kecewa.."
"sejatinya, kita tidak boleh pesimis dengan situasi dan keadaan ini. Jangan menganggap, bahwa seluruh pejabat di negara kita, tidak peduli terhadap bansga ini. Masih ada kok, elit politik yang dengan serius mengurusi bangsa ini...hanya saja, pola komunikasi mereka, tidak sampai pada telinga kita.."
Inilah beberapa komentar, yang kadang muncul di lisan masyarakat, dan kerap kali pula, menguap begitu saja. Menguap, bukan berarti hilang, tetapi melayang dialam harapan, dan menunggu hinggap di dedaunan hijau, yang akan mengubahnya menjadi butiran air segar dan menyegarkan.
embun politik, yang diharapkan menebar dengan segera !
Bagaimana menurut pembaca ?

0 comments:
Posting Komentar