Just another free Blogger theme

Rabu, 15 April 2026

Di tahun 2013, kita pernah membicakan dua arah keberpihakan Indonesia. Saat itu, Pemerintah, seakan memiliki kecondongan pada upaya membangun afiliasi pembangunan dan politik gaya Indo-China. Naga-naganya, sangat sederhana. Dikit-dikit China. Dikit-dikit China, Pemerintah diduga oleh publik deketan dengan China.



Sejak Prabowo naik ke kursi kekuasaan, angin pergerakan afiliasi ini, kental dengan aura Amerika Serikatnya. Setidaknya, saat konflik Iran-Israel mengemuka, Prabowo masuk dalam lingkaran BoP (Board of Peace), pimpinan Donald Trump, dan beberapa hari kemudian, meletus perang Israel dibantu AS, dengan Iran.

Kritik dan koreksi pun mengemuka. Tetapi, Pemerintah bersikukuh dengan misi-mulianya, yang mungkin tidak terpahami oleh publik. Publik masih menganggap bahwa Pemerintah cenderung menjadi sekutu Amerika Serikat. Bahkan, dipertengahan April 2026, pun menguat pula, ada keberpihakan Pemerintah kepada Amerika Serikat. Setidaknya, wacana pembolehan pesawat tempur Amerika Serikat menggunakan Langit-kedaulatan Negara Republik Indonesia. Indikasi ini menguatkan dugaan publik terhadap afiliasi politik pemerintah saat ini.

Adalah menjadi wajar, bila kemudian, angin afiliasi politik pertahanan Pemerintah  Indonesia,  dibaca oleh Pemerintah Iran, sebagai bentuk persekutuannya. Dan, karena itu pula, kebijakan Pemerintah Iran dalam membatasi keluar-masuk selat Hormuz bagi kapal tanker minyak Indonesia, menjadi terbatas. 

Itu, resiko, arah angin afiliasi politik dan kekuasaan, yang bisa terbaca kontroversial oleh orang lain  !!!

Kita berharap, Pemerintah tidak melakukan kesalahan sikap, dalam memanfaatkan angin perubahan afiliasi fakta pertahanan, dan ekonomi dunia hari ini ke depan. Imajinasi AS sebagai satu-satunya negara adidaya, baik dari sisi ekonomi maupun pertahanan dunia, di awal 2026 ini, mulai bergeser, atau sedikit tercoreng kewibawaannya.

Ketangguhan Iran sebagai negara-korban blokade ekonomi Amerika Serikat, mampu menunjukkan kemandirian dan kemajuannya. Blokade militer terhadap Iran, oleh Amerika Serikat, malah mampu menunjukkan kepesatan perkembangan teknologi militernya, bahkan sampai pertangahan April ini, Iran mampu bertahan digjaya dari gempuran AS-Israel.

Kondisi dan keadaan inilah, yang kemudian melahirkan proses penyadaran bagi dunia mengenai pentingnya kemandirian negara, dan kedaulatan negara, tanpa harus bergantung pada Amerika Serikat. Selaras dengan hal ini pula, maka wajar, bila kemudian, sejumlah negara Eropa, yang semula adalah anggota NATO, pendukung Amerika Serikat, kini mulai berani untuk melakukan perlawanan, dan penolakan terhadap ambisi Amerika Serikat, dalam melakukan tindakan politik dan tindakan militernya terhadap negara berdaulat.

Bagaimana dengan Indonesia ? 

Apakah, seruan Iran untuk membangun Poros pertahanan regional mendapat sambutan dari negara-negara Arab ? atau, malah akan memperkuat Poros Pertahanan Negara-Negara Islam ? atau, Poros Asean akan menguat kembali ?

Apakah, hasrat kemandirian Eropa untuk mewujudkan Masyarakat Ekonomi Eropa, atau Brics, akan menjadi lebih kuat dan tangguh, sehingga bisa mendistribusikan kekuasaan dunia ?

Apapun pilihannya, hal yang menarik hari ini, Eropa dan Iran, setidaknya demikian, sudah memiliki konsep-diri kebangsaan yang baru. Kemandirian, dan kedaulatan negara, sudah menjadi sebuah keniscayaan mutlak bagi negara-negara di kawasan ini. Amerika Serikat dan Suara Amerika Serikat, sudah tidak dianggap sebagai suara dominan dalam kehidupan berbangsa, bernegara, dan berdunia.

sekali lagi, dimana posisi Indonesia ?


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar