Just another free Blogger theme

Kamis, 09 April 2026

Selepas ada perjanjian Iran dan Amerika Serikat, kita melihat ada drama-global lainnya. Drama politik itu, dimainkan oleh Israel di satu sisi, dan pemain figuran lainnya di sisi lain. Pemain figuran itu, tentunya adalah Amerika Serikat. Pemain figuran itu, biasa disebut orang sebagai aktor yang memainkan peran pembantu.



Kesimpulan ini, terlalu menyederhanakan, dan disederhanakan. Tetapi, kita semua, publik, atau setidaknya, sebagai pembaca media sosial, dapat melakukan kajian kritis terhadap kesimpulan tersebut. Kebenaran terhadap pernyataan itu, dapat diuji realitas dan rasionalitasnya, secara bersama-sama.

Babak pertama, adegan yang dimainkan itu, adalah Israel menyerang Iran. Menurut berita sih, tanpa sepengetahuan Amerika Serikat. Kenekadan Israel itu, tanpa kompromosi dulu dengan Amerika Serikat. Mereka menyerang duluan. Media sosial sih, menyebutnya, dengan maksud memancing konflik dan mendorong percepatann turunnya aktor Amerika Serikat dalam peperangan itu. Akhirnya, sesuai skenario, saat Iran melakukan serangan balasan, Amerika Serikat pun turun membantu Israel, dan membalas ke Iran.

Babak kedua, Amerika Serikat memainkan peran utama, ceritanya demikian, dan seakan demikian. Amerika Serikat memainkan peran utama dalam peperangan dengan Iran. 

Narasi yang dituturkan dari lisannya, sebagaimana disampaikan media massa, Amerika Serikat itu, dijadikan sandaran Israel untuk menyerang Iran, karena memiliki modal dan teknologi yang canggih. Di sisi lain,  Amerika Serikat pun, adalah donator persenjataan dan finansial bagi Israel. Maka karena itu, wajar, bila Amerika Serikat ini, memiliki ambisi yang sangat jelas. 

Ambisi itu adalah, mengambil alih citra, menjadi tokoh kontroversial yang menjadi aktor utama peperangan, dan aktor terkuat dalam peperangan itu. Serangan, baik rudal maupun surara vokal di media massa, diluncurkan, dengan harapan meruntuhkan rezim Iran.

Di babak ini, cerita sangat panjang. Rencananya hanya satu episode, namun malah berbuntut. Tayangnya, sampai 5 minggu. Sebuah kisah peperangan yang sangat melelahkan. Panjang sekali. 

Amerika Serikat, sebagai sang aktor di babak kedua, sudah berhasil meraih perhatian media. Dalam pemberitaan media, peperangan ini seakan bukan lagi menjadi perang Israel-Iran, melainkan seakan Iran dan Amerika Serikat, yang sama-sama memiliki ketangguhan senjata dan tenaga. 

Kisahnya, cukup panjang, pelik dan dramatis. Semula, banyak orang menduga akan dimenangkan Amerika Serikat dengan mudah, ternyata, ketangguhan Iran dalam melakukan perlawanan, menjadi sesuatu yang tak terduga.

Babak ketiga, energi dan ketahanan senjata dan fisik dari sang aktor antagonis itu,  mulai melemah, dan kemudian, menurun  dengan suara agak membuncah. Antara semangat patriotisme di atas podium, dengan kelemahan diri di medan tempur. Harapan dan khayalannya, banyak berbeda hasil. Klaim dengan kenyataan, sebagaimana yang dibayangkan Amerika Serikat, tidak sesuai. Mengklaim menang, tetapi serangan masih datang secara bergelombang.

Dugaan penonton, akan menurun dan akhir kisah, dikira akan segera berakhir. Dan memang, babak kedua itu itu di akhiri pada babak ketiga ini. Amerika Serikat, melakukan perjanjian gencatan senjata dengan Iran. Selesailah babak ketiga ini. Di sini.

Babak akhir. Sebagaimana dugaan sebagian penonton, dikira drama gombal ini, akan berakhir di situ.  Ternyata, tidak demikian. Karena aktor yang muncul di babak pertama, merasa tidak dilibatkan dalam kisah babak ketiga, maka kemudian dia muncul lagi dengan kelakuan yang antagonis lagi. Israel menyerang Lebanon, padahal dalam perjanjian damai itu, sudah dimasukkan sebagai salah satu klausul yang disepakati dengan Amerika Serikat.

Israel keukeuh, tindakannnya tidak melanggar perjanjian. Iran memandang, Israel sebagai negara ingkar janji, dan tidak konsisten dengan perjanjian. 

Di babak ini, kita melihat, bagaimana peran aktor antagonis yang melakukan perjanjian tadi ? apakah Amerika Serikat, mampu mengendalikan sikap Israel, untuk bisa mematuhi kesepakatan yang sudah dibuat Amerika Serikat dengan Iran ?

jawabannya sederhana. Bila Israel membangkang, dan Amerika Serikat tidak mengendalikan Israel, maka jelas sudah bagi penonton, bahwa Amerika Serikat itu adalah pemain figuran, yang berhalusinasi sebagai pengendali dunia, padahal, dia adalah figuran dari majikannya, yakni ZIonis Israel itu sendiri. Buktinya? saat Israel ingin menyerang Iran, dia ikut terlibat langsung, tetapi, saat Amerika Serikat membuat kesepakatan, Israel tidak mau tunduk terhadapnya. Oleh karena itu, betul, bila ada yang mengatakan, lobi Yahudi Israel  itu,  sangat dahsyat dalam politik Amerika Serikat, dibanding lobu Amerika Serikat terhadap Israel itu sendiri.

Kesimpulan ini mengantarkan pada kita, Iran sangat mudah melakukan perjanjian dengan Amerika Serikat, tetapi Israel tetap akan menjadi duri dalam membangun kestabilan kawasan di Timur Tengah !!!! 



Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar