Just another free Blogger theme

Selasa, 28 April 2026

Diingatkan seseorang, Leo Tolstoi sempat mengatakan, "Keluarga bahagia mirip satu dengan lainnya, keluarga tak bahagia tidak bahagia dengan jalannya sendiri-sendiri..." pada masterpiecenya, Anna Karenina.

Menurut penuturnya, pemaknaan terhadap kalimat ini, sangat mendalam dan meluas. Kita bisa saja mengatakan bahwa Leo Tolstoi memaksudkan diri untuk mengatakan bahwa keluarga yang bahagia itu, memiliki ciri yang mirip. Misalnya, memiliki kecukupan ekonomi, atau pola komunikasi dalam keluarga yang hangat. Tampaknya, untuk setiap keluarga yang memiliki dua kategori itu, akan merasakan sebuah kebahagiaan didalamnya. Itulah ciri yang miripnya.

Sedangkan untuk sebuah keluarga yang tidak bahagia, kita akan menemukan jalan ketidakbahagiaannya bisa beragam, dan berjalan sendiri-sendiri. Ada yang tidak bahagia karena ekonomi. Ada yang tidak bahagia, karena tidak mendapatkan kepuasan emosional. Ada pula yang tidak bahagia, karena tidak merasakan kepuasan biologis. Di lain waktu, ada juga keluarga yang tidak bahagia, karena sakit-sakitan, ada  pula yang tidak bahagia karena dipusingkan dengan kondisi anak-anaknya. 

Pada intinya, ketidakbahagiaan seseorang, atau sebuah keluarga itu, sangat unik dan berjalan sendiri. Orang kaya bisa rumah mewah,  tetapi keluarga yang menderita, bisa jadi, memiliki rumah mewah namun kebutuhan  biologis yang tidak terpenuhi. Pada ujungnya, kualitas keluarganya menjadi tidak mendapatkan kebahagiaan yang optimal.

Bisa jadi, ada sebuah keluarga yang memiliki pasangan yang indah, tampan atau cantik. Indikator serupa ininya sama. Tetapi satu keluarga merasakan bahagia, sedangkan satu keluarga lagi tidak bahagia, dengan alasan tidak memiliki keturunan. 

Demikianlah makna lain, dari pernyataan Leo Tolstoi tersebut. Seseorang yang merasa bahagia, bsia jadi memiliki indikator yang sama, yakni murah senyum, tetapi seseorang yang merasa tidak bahagia, perasaan tidak bahagianya, bisa disebabkan oleh cara yang berbeda, dan jalan yang berbeda-beda pula.

Tentu saja, saat ini, pikiran ini mulai terganggu. Terganggu oleh ide atau pemikiran Tolstoi tersebut. Terganggu, karena keraguan atau kepenasaran kita mulai muncul, apakah, pernyataan itu, bisa terjadi dalam ragam kejadian dalam kehidupan kita, atau hanya sekedar sebuah kasus dalam konteks tertentu saja.

Goodaan pemikiran seperti inilah, yang kemudian mendorong kita, untuk mencoba menelaah pada sisi lainnya. 

(eh... maaf, kejadian pun, jangan-jangan adalah bagian dari contoh pernyataan itu. Kalimatnya bisa saja sama, tapi inspirasi dan ruang lingkup ketercerahannya akan beragam...). 

Pengamatan serupa itulah, yang mengantarkan pada satu pikiran, bahwa ciri sesuatu itu, bisa saja, ada kemiripan atau sama. Tetapi, faktor penyebabnya bisa beragam. 

Orang yang pintar, bisa jadi, memiliki ciri yang sama, yakni mampu menunjukkan kemampuan dalam memecahkan masalah, tetapi faktor yang mendorong seseorang cerdas, bisa beragam. seseorang ada yang cerdas, karena rajin mengasah diri, dan ada pula yang cerdas karena memiliki potensi genius, atau lain sebagainya.

Bagaimana menurut pembaca ... 



Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar