Momen ini, saya hendak gunakan untuk melakukan refleksi, terkait, ikatan atau hubungan antara kita dengan mitra. Maksud dari mitra ini, kita akan gunakan untuk memosisikan pihak lain secara setara, dan bukan sebagai sasaran. Termasuk masalah benda, atau hewan.
Mungkin masih agak bingung dengan kalimat ini. Namun pembaca tidak akan mengalami kesulitan memahaminya, bila tersajikan contoh. Misalnya hubungan kita dengan gadget, hubungan kita dengan hewan piaraan, hubungan kita dengan pasangan hidup, hubungan kita dengan teman dekat, dan hubungan kita dengan klub olahraga kesayangan. Sejumlah hal di luar diri kita, yang kita hubungi itu, kita posisikan sebagai mitra dan bukan objek.Mengapa disebut mitra, dan bukan objek ?
Secara terbuka, dan jujur, sejatinya, semua hal di luar diri kita, yang dihubungi kita itu, adalah terhubung dengan kebutuhan diri kita sendiri. Andai saja, tidak ada kebutuhan dalam diri kita, maka hal-hal tersebut tadi, tidak akan dihubungi, dan kita tidak ada hubungannya dengan dia. Maka karena itu, keterhubungan kita dengan benda di luar kita itu, adalah bagian dari upaya kita memenuhi kebutuhan hidup kita, dan untuk menggenapkan kebutuhan kita. Bila kebutuhan hidup kita tidak terpenuhi, karena ketiadaannya, maka kegelisahan akan hadir dalam diri kita.
Contoh sederhana. Baru saja, kita menyaksikan, tim sepakbola kesayangannya kita gagal meraih point sempurna. Kalah sih tidak, tetapi, tidak mampu meraih nilai sempurna. Kegagalan meraih nilai sempurna itu, satu sisi, menghilangkan kebahagiaan sempurna, tetapi juga menghadirkan kekhawatiran mendalam dalam dirinya. Khawatir, dalam waktu dekat, tim bola kesayangan kita, akan tersalip dalam klasemen berikutnya, dan kemudian gagal meraih juara.
Dalam konteks itulah, tampak jelas bahwa kehadiran sesuatu yang bisa dihubungi itu, adalah bagian tak terpisahkan dari kebutuhan hidup, dan atau kematangan mental diri kita sendiri. Ketiadaannya, menyebabkan kegelisahan, kegundahan, dan emosi yang membuncah, yang menyebabkan kita tidak merasakan eksistensi kita sebagai sesuatu yang sempurna atau sesuatu yang baik.
Lain halnya dengan objek. Objek adalah sesuatu di luar kita, dan, kebaikannya, keberhasilannya, atau kelebihannya, sangat menguntungkan diri kita, sedangkan kegagalan, keburukannya, tidak dirasa sebagai bencana bagi dirinya. Sesuatu terposisikan sebagai objek, karena kita merasa terbebas dari kemalangannya, namun merasa diuntungkan dengan kebaikannya.
Bila kita berhadapan dengan kawasan dengan sumberdaya tambang yang luar biasa melimpah. Eksplorasi barang tambang, akan meningkatkan cuan dan pundi-pundi kita. Kita merasa bahagia. Itulah yang disebut potensi adanya hubungan antara diri kita dengan kawasan tambang di maksud. perasaan mendapatkan keuntungan itu, akan menarik perhatian, perasaan atau sikap untuk bisa mendekati dan bertindak di kawasan itu.
Persoalan lanjutanya adalah, saat kawasan itu rusak, dan menyebabkan bencana alam bagi ekologi sekitarnya, akankah rasa dan keterikat itu masih ada dalam jiwa kita ? bila rasa dan perasaan yang saat ada keuntungannya muncul, dan kemudian saat ada bencana perasaan itu hilang, dan merasa bisa lepas tangan dan pindah ke tempat lain, dengan cara membiarakan kondisi ekologi barang tambang rusak, maka dalam posisi serupa itu, kawasan tambang adalah objek bagi si pelaku tersebut.
Saat memadu cinta, seseorang yang ada dihadapan kita, menjadi sumber kebutuhan, kebahagiaan, dan keceriaan dalam hidup. Dia seakan-akan menjadi satu-satunya media yang membuat dirimu menjadi seseorang dalam hidup ini. Dalam posisi itu juga, kau merasakan sejumlah kebutuhan dapat terpenuhi dengan kehadirannya, yang begitu memesona hidupmu, dan memiliki banyak manfaatnya dalam hidupmu. Tetapi, manakala ada bencana yang terjadi, misalnya bisnisnya bangkrut, atau tubuhnya cacat karena kecelakaan, kemudian kau berubah pikiran, dan menganggapnya sebagai sesuatu yang tak berguna. Maka dalam posisi dan kondisi itu, orang tersebut sudah menjadi objek-kebutuhanmu dalam kehidupanmu.
Berdasarkan pertimbangan itulah, kemitraan adalah hubungan kebutuhan dan tanggungjawab, baik terhadap benda, hewan, tumbuhan dan juga manusia lain. Sedangkan, seseorang yang tidak peka, dan tidak peduli pada derita atau musibah yang dialami oleh apapun di luar dirinya, adalah individu yang sudah memosisikan pihak luar sekedar sebagai objek belaka.
Bagaimana menurut pembaca ?

0 comments:
Posting Komentar