Tidak secara sengaja, pagi ini, membaca buku terjemahan dengan judul Seni Perang Sun Tzu. Buku itu ditulisnya oleh James Clavel. Buku klasik, terjemahan jadul. Tetapi menarik untuk dikaji ulang, dan bahkan menurut sebagian pengamat, dan penelaah kepustakaan, seni Perang Sun Tzu ini, masuk kategori karya legend di kelasnya.
Masa Iya sih?
Setiap orang dapat melakukan telaahan, baik kepustakaan, atau perbandingan, sehingga dapat membedakan kualitas kajian satu pemikir dengan pemikir lainnya. Dalam hal ini, saya sendiri, melihat, bahwa kelayakan dan kepatutan buku sebagai legend, dapat dipertanggungjawabkan secara rasional.
Pertama, tentu saja, buku yang ditulis dua setengah abad yang lalu, dan masih menarik untuk dibaca, adalah satu indikator penting dalam menilai kualitas pokok pikirannya. Tidak bisa diragukan lagi. Hal ini menunjukkan bahwa penulisnya, dengan kecerdasan yang dimilikinya, mampu menuangkan gagasan dengan presisi dan memberikan makna yang luar biasa, sehingga bisa relevan dengan kondisi zaman, di setiap zamannya.
Kedua, tema perang, ternyata menjadi tema yang aktual dan hadir di setiap zaman. Perang, bukan hanya peristiwa politik tradisional, melainkan juga dapat terjadi di setiap zamannya. Inilah yang menjadi pesan penting bagi kita semua. Perang terjadi, bukan hanya di era modern ini, tetapi pernah terjadi pula di masyarakat primitif, atau masyarakat masa lalu.
Kehadiran Seni Perang itu, menunjukkan fenomena perang sebagai fenomena sejati, kehidupan manusia. Walau mungkin, model dan bentuk peperangannya saja, yang akan terjadi. Keyakinan ini, setidaknya, ditunjukkan pula oleh, adanya kemampuan interpreter di era modern, yang menerapkan gagasan seni perang Sun Tzu ke dalam konteks bisnis, atau sikap hidup era modern.
Ketiga, pokok pikirannya, yang tidak usang ditinggal zaman. Saat menjelaskan mengenai strategi atau seni perang, Sun Tzu menegaskan bahwa pemimpin dan kepemimpinan yang cerdas, menjadi sangat penting, setidaknya bagi keselamatan pasukan, dan kemenangan pasukan dalam peperangan.
Gagasan yang terakhir ini, memberikan kesan, kebodohan pimpinan, apapun namanya, apakah itu Jenderal, Ketua, Kepala, Direktur, atau istilah lainnya, akan menjadi monster bagi pasukannya, warganya, atau masyarakatnya. James Clave pun, menegaskan bahwa kematian sia-sia pemuda, dalam peperangan adalah akibat dari kebodohan jenderalnya. Makna ini bisa diperluas lagi, kematian rakyat secara sia-sia, adalah akibat dari kebodohan pemimpinnya dalam mengelola atau memerintah sebuah negeri.
bagaimana menurut kalian ?

0 comments:
Posting Komentar