Just another free Blogger theme

Senin, 13 April 2026

Obrolan ini, sesungguhnya, sekedar obrolan kecil. Di ruang pimpinan sekolah. Membincangkan hal yang sama, serupa, seperti hari-hari lalu. Tidak jauh, dari masalah pendidikan, pembelajaran, atau pembinaan peserta didik. Karena itu, hampir bisa dipastikan, tidak ada sesuatu yang aneh, atau baru. Andaipun ada yang baru, sekedar nama oknumnya saja, masalahnya masih tetap serupa, yakni menyangkut ketiga hal tadi.


Termasuk obrolan hari itu, di tempat itu. Obrolannya tidak jauh dari ketiga masalah itu. Namun, beberapa saat kemudian, muncul pertanyaan yang unik. "bagaimana, formasi kabinet satuan pendidikan, akankah untuk tahun ini berubah ?"

Sebuah pertanyaan yang biasa. Sekali lagi, biasa untuk sekedar wacana dua tahunan di dunia pendidikan, empat tahunan di pimpinan sekolah, atau 5 tahunan untuk kepala daerah. Pertanyaan itu, bukan sesuatu yang baru. Karena memang, sebuah kepatutan dari sebuah periodisasi kekuasaan. Di jenjang manapun, dan saat diduduki oleh siapapun.

Dalam mekanisme demokrasi, seseorang dituntut untuk memiliki kesadaran, mau bersaing, siap menang, dan siap kalah. Manakala satu diantara tiga itu, tidak hadir, maka akan menjadi preseden buruk, bagi budaya organisasi tersebut. Bukan hanya akan menyebabkan pembusukkan kaderisasi, tetapi akan menyebabkan keberkaratannya kekuasaan, dan pada ujungnya kaku, dan otoriter.

Demikianlah ilustrasinya. Itulah gambaran umumnya. Dan, begitulah ancaman atau bahayanya. Oleh karena itu, siapapun, hendaknya memiliki kegelisahan yang sama, untuk terus menjaga atmosfera demokratisasi, di manapun berada, baik di lingkungan keluarga, masyarakat, satuan pendidikan, dan juga terlebih lagi Pemerintahan. Atmosfera demokrasi itu, akan menjadi instrumen dalam menjaga kesehatan kehidupan berbangsa dan bernegara, dan akan tetap menjaga kebugaran sirkulasi kekeuasaan dan regenerasi.

Sebagai salah seorang yang hadir dalam lingkungan itu, mendapat pertanyaan serupa itu, merasa tersentak. Eh, tersentak ini, bukan kaget dengan tema atau masalahnya. Namun, tersentak karena terbangunkan oleh waktu. Ternyata, waktu regenerasi dan momen demokratisasi itu, menghampiri dengan secepat itu.

Betul, dan mudah dipahami, serta banyak contohnya. Ternyata kekuasaan, dan kursi posisi, sangat empuk, dan sangat mudah melenakan banyak orang, sehingga lupa waktu. Akibat kelupaan itulah, kemudian menyebabkan seseorang, tidak sadar terkait dengan roda kewenangan itu, semakin hari semakin berkurang, dan menuntut adanya proses suksesi lagi. 

Bagi sebagian orang, kadang, justru, sangat melek dengan waktu. Saking meleknya dengan waktu-kekuasaan, maka sejumlah strategi dan teknik politik yang dipandang perlu untuk dikerjakan, dengan sesegera mungkin diterapkan, dengan maksud dan harapan, dalam waktunya bisa berjalan dengan baik, dan kursi kekuasaan masih tetap bisa dikuasainya.

Sayangnya, karena kesadaran hal serupa itu, kemudian banyak kejadian, seseorang yang lahir dari sebuah proses demokratis, selepas duduk di kursi kekuasaan, malah menjadi pribadi yang ibarat kacang lupa kulitnya. Melupakan sisi demokratis, dan menjelma menjadi tokoh yang anarkhis dan otoriter. 

Lha bagaimana dengan mereka yang lahir dari sistem autokrasi atau otoriter, apakah ada kemungkinan menjadi pribadi yang demokratis ?  sulit untuk menjawab hal ini. Mungkin ada, Mungki, bagi sebagian orang menganggapnya banyak. Namun sayangnya, akan menjadi pemantik prokontra pemikiran dan penilaian terhadap pribadi orang tersebut. Oleh karena itu, untuk membincangkan tema serupa ini, membutuhkan waktu, dan horizon pengetahuan yang luas dan mendalam. Tetapi, bila dikaitkan dengan kasus yang sebaliknya, akan dapat mudah dihadirkan.

Sekali lagi, betul dan sangat mudah untuk dihadirkan, bila mengajukan jawaban terkait adanya perubahan pribadi orang yang lahir dari alam demokrasi, kemudian menjadi pribadi yang orotiter atau anarkhis. Sangat mudah. Setidaknya, bila saja, kita lahir dari hasil demokrasi, tetapi kemudian ngotot ingin mempertahankan kursi kekuasaan, dengan segala cara dilakukan, maka hal itu, akan menjadi benih-benih dari ketidakdemokratisan.

 Bagaimana menurut pembaca ?

 

.

 



Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar