Bisa jadi, inilah hasil dari diklat Pintar yang diselenggarakan Kementerian Agama. Model Diklatnya, online ada diplatform Pintar Kemenag. Temanya beragam. Dan tadi malam, mengikuti program Diklat dengan tema Kurikulum Cinta.
Semalaman tidur pulas. Tidak ingat apapun. Dalam tidur, seperti biasa, dan seperti orang lain saja. Bila tidak salah ingat, momen tidur sekitar pukul 21-an, dan kemudian terbangun kembali jelang shalat subuh.
Saat melaksanakan ibadah shalat rutin harian itulah, hati ini, tergerak. Kesal ada, gemes ada. Adzan sudah berkumandang, tetapi anak-anak belum juga tampak geliatnya, untuk melaksanakan ibadah rutinan, harian, di pagi hari itu.
Dalam pikiran ini, rasanya sudah banyak hal yang dilakukan. Rasa-rasanya, demikian. Tetapi, perubahan pada anak, belum sesuai dengan apa yang diharapkan. Sejatinya, mereka sudah sadar, dan sudah tahu kewajibannya. Ibadah rutin harian, tidak pernah ditinggalkan, setidaknya demikianlah, dalam pengamatan mata sendiri. Namun, mereka lakukan, dalam waktu yang sesuai dengan hasratnya saja, dan tidak menunjukkan kesungguhan yang memprioritaskannya.
Di tengah perjalanan renungan itulah, terbersit pikiran, 'mungkin, inilah yang disebut ibadah terpanjang dalam hidup. Harus sabar melayani anak, tetap ikhlas mengingatkannya, dan fokus pada tujuan, dalam menjalaninya..." pikirku saat itu.
Pikiran dan perasaan, dengan secepat itu, melakukan dialog. Istilah kampus, mungkin disebutnya refleksi. Saya tidak boleh putus asa, tidak boleh berhenti, dan tidak boleh mengalihkan perhatian.
Kejadian dan kondisi batin ini, rasanya-rasanya akan terus berjalan, sepanjang amanah sebagai orangtua ini, ada dalam pundak. Rasanya demikian. Bila saja, kita hendak menghindari tugas itu, ya, tentunya, harus berani meninggalkan jabatan itu, atau melepas amanah ini. Dengan kata lain, sepanjang amanah itu,hendak tetap dipikul, maka mau tidak mau, prosesi kehidupan serupa itu, harus terus dijalani dan dihadapi.
Seiring refleksi itulah, kemudian pikiran ini pun beralih tempat. Anak yang susah diatur, atau lebih tepatnya, kita belum paham dengan karakter genZ hari ini, bukan hanya terjadi di rumah, tetapi juga di lembaga pendidikan. Bila kita melihat dan mencoba untuk berempati terhadap tenaga pendidik, keragaman kenakalan anak GenZ di lembaga pendidikan, sangat-sangat beragam, bahkan, menguji kesabaran dan nurani seorang guru.
Di bulan ini, sejumlah anak SMK Negeri di Jawa Barat, viral. Viral dengan kelakuannya, yang menunjukkan upaya merendahkan gurunya. Luar biasanya, anak-anak itu, melakukan pelecehan profesi kepada seorang guru, guru senior, guru perempuan, dengan cara diviralkan.
Astaghfirullah. Tetapi itulah, kenyataan dunia pendidikan. Bukan hanya otaknya yang bermasalah, pun demikian dengan akhlaknya.
Ketangguhan seorang guru dalam menghadapi karakter anak serupa itu, jelas dan tegas sudah bahwa membutuhkan kesadaran untuk menjalani. Dan praktek itulah, yang disebut sebagai praktek ibadah panjang dalam kehidupan kita.
Mungkin bukan yang terpanjang. Tetapi, menjalani profesi layanan publik, baik di lembaga pendidikan dan Pemerintahan, membutuhkan ketahanan mental yang tangguh dan kokoh, karena ujiannya, tidaklah sederhana. Bila tidak dilandasi cinta kepada keluarga, kepada peserta didik, dan kepada masa depan bangsa dan negara, menjalani profesi sebagai pelayan publik, rasanya potensial melahirkan depressi saja !!
Bagaimana menurut pembaca ?

0 comments:
Posting Komentar