Apakah pernyataan ini, termasuk kategori sikap prematur ?
Bisa jadi, tidak. Walaupun akhir dari peperangan antara Iran dengan Israel-Amerika Serikat belum berakhir, namun, kemampuan Iran sampai hari ini, dapat dijadikan inspirasi dan sumber belajar bagi bangsa kita. Menurut penulis, tentunya, sudah bisa. Bisa dijadikan sumber bahan belajar.
Lha, bukankah, negeri Iran itu adalah Islam Syi'ah ?
Apa masalahnya belajar dengan Islam Syi'ah ? selama ini pun, kita bisa dan sering belaja ke China, yang agamanya jauh berbeda dengan kita, dan bahkan berbeda dengan Syi'ah. Bukankah, selama ini, kita tidak ada masalah, dan tidak mempermasalahkan untuk bisa belajar ke negeri China ?
Andaipun masih ragu, dengan alasan apapun. Bukankah kita, selama ini pun, sudah terbiasa belajar ke Jepang, yang beragama Shinto ? apa masalahnya belajar ke Jepang, yang berbeda agama dengan kita ? problematis mana, belajar ke agama Shinto dengan ke negeri yang beragama Islam, hanya beda mazhab ?
Rasanya tidak fair. Bila anti untuk belajar ke Iran, karena Syi'ah, tetapi tetap merasa nyaman belajar ke negeri Shinto-Jepang, atau Kong Hu Chu China.
Sekali lagi, andaipun, kita masih ragu untuk belajar ke negeri Iran, apa bedanya, dengan kita yang belajar ke Rusia, yang nota bene adalah negara komunis ? atau ke negeri Belanda, yang liberalis, bahkan banyak yang ateis juga ?
Rasanya tidak fair, bila kita masih gigih menunjukkan anti Iran, tetapi merasa nyaman belajar ke Eropa Barat, atau Eropa Timur, yang memiliki ideologi hidup, berbeda dengan agama yang diyakini sendiri.
Bisa jadi, diantara kita ada yang melakukan protes. Walaupun kita belajar ke China atau Rusia, tetapi kita tidak menjadi komunis. atau, walaupun kita bisa belajar dan kuliah dari Prancis atau Belanda, tetapi kita tidak harus menjadi liberal.
Sikap dan pendirian itu, tepat, dan menarik untuk terus didiskusikan. Artinya, kita sepakat, bahwa walau belajar ke komunitas yang berbeda dengan budaya atau ideologi yang berbeda, tidak berarti kita harus larut dan masuk ke dalam budaya dan ideologi mereka. Seseorang yang belajar, dan bisa bersikap profesional, akan bisa belajar keunikan budaya orang lain, dengan cara tetap teguh dengan nilai dan budaya sendiri.
Pun, demikian adanya. Selepas memperhatikan, bagaimana ketangguhan Iran dalam melakukan perlawanan ke Israel-Amerika Serikat hari ini, kita bisa melihat perkembangan teknologi militer, teknologi komunikasi, dan juga ketahanan ekonomi, loyalitas serta solidaritas kebangsaannya, rasanya, tepat bila kita dapat belajar keunggulan bangsa Iran tersebut.
Seperti yang kerap terinformasikan, bahwa selepas kejadian 9/11, gelombang masyarakat Barat untuk mengetahui Islam meningkat, dan bahkan jumlah mu'alaf pun meningkat. Dengan alasan yang sama pula, bisa jadi, dengan melihat ketangguhan ekonmomi dan ketahanan militer Iran saat ini, akan menjadi magnet kuat, untuk menarik gelombang masyarakat untuk belajar hidup mandiri dan tangguh dari negeri ini.
Bagaimana menurut kalian ?

0 comments:
Posting Komentar