Just another free Blogger theme

Jumat, 03 April 2026

Setelah menelaah problema kritis di atas, kita akan mencoba untuk melihat perkembangan pemikiran kegeografian, khususnya mengenai  hakikat kegeografian yang kita jelaskan di awal tulisan ini, dan kita tidak akan melihat perkembangan teorinya. Untuk mengakaji masalah yang terakhir ini, pembaca dapat menelaahnya tulisan Nathanael Daldjeoni mengenai “Perkembangan Filsafat geografi”. Buku tersebut, bermanfaat bagi kita untuk dijadikan pengantar dalam memahami tonggak-tonggak pemikiran kegeografian dari Herodotus sampai Hagget bahkan pemikiran kegeografi tahun 1970-an di abad 20-an sekarang ini.



Dengan tidak bermaksud untuk memotong bahasan, saat ini, kita hanyalah memfokuskan pada perkembangan akhir geografi dan tuntutan kontemporer pada disiplin ilmu geografi. Kenyataan ini, memang telah disadari sebagai salah satu kelemahan paper kita sekarang ini. Namun, hal tersebut itulah yang  penulis anggap sebagai satu problema penting di saat ini, sekaligus juga problema yang penulis lebih pahami dan mampu ditampilkan  pada kesempatan saat ini dibandingkan yang lainnya. Kendatipun begitu, bukan berati ketidakterbahasannya problema tersebut di atas, merupakan sabagai cacat-konsepsi, malahan penulis merasa yakin bahwa strategi ini adalah satu upaya yang strategis dalam menjawab beberapa tuntutan dan tantangan jaman hari ini. Sekaligus juga supaya menjadi bahasan yang berkelanjutan dan berkesinambungan  dengan tema-tema pemikiran berikutnya.

Menarik untuk simak oleh kita adalah sinyalemen geograf tentang perkembangan gaya analisis di dalam geografi dimasa sebelum kita ini. Misalnya saja, dalam “pengantar Geografi” Daldjeoni, mengemukakan ada  dua jenis perkembangan gaya analisis  dalam geografi. Kategori pertama, geografi lebih menampilkan pola “casuistic geografi”. Pola ini lebih menekankan geografi sebagai disiplin ilmu yang menyajikan data-data kasus pada setiap daerah. Makna regionalitas dalam arti  sederhana sudah mulai ditampilkan, namun analisis yang dikedepankannya  belum memberikan corak yang holistik. Misalnya saja, penyajian mengenai kota Bandung. Seorang penulis yang  membahas masalah kota Bandung ini, akan menanmpilkan analisisnya mengenai kepadatan penduduk kota Bandung. Maka dia menulis dan menampakan data-data tentang jumlah penduduk, sex ratio penduduk,  mata pencaharian penduduk, tingkat pendidikan dan kesehatan penduduk juga perkembangan dan pertumbuhan jumlah penduduk  di kota Bandung tersebut tadi.

Lain dengan pola yang kedua, yaitu “casualistic geography”. Pada pola ini seorang geograf menyajikan  data yang lebih menekankan pada analisis hubungan saling keberpengaruhannya antara fenomena geosfera yang satu dengan fenomena geosfera lainnya dalam sebuah sistem. Sehingga, manakala kita mengungkap ulas mengenai sebuah tema  fenomena geosfera interrelasi dan interdependensia geosferanya akan lebih kentara dibandingkan dengan pola yang pertama di atas tadi. Hubungan sebab-akibat antara yang satu dengan yang hanya menjadi perhatian utama dalam pemikiran  kasualistik geografi ini. Menyimak kedua pola pemikiran ini mengingatkan kita pada pendapat Nursid Sumaatmadja, mengenai cara penyajian masalah yang bersifat tematik atau topikal dan regionalistis. Pemikiran kasualistik ini semakna dengan tematik, sementara pola kedua semakna dengan regionalitasnya Nursid Sumaatmadja.

Kedua pemikiran di atas, dalam pendapat penulis, tidak bisa diangkat dan dipisahkan secara ketat atau ekstrim. Dengan tidak bermaksud untuk memperlakukan proses penyederhanaan, maka penulis ingin mengatakan bahwa kita akan mencoba untuk memadukan dua pendapat tersebut. Yang mungkin akan terjadi adalah adanya suatu “prosentase” atau kecenderungan (pembobotan)  gaya pemikiran semata. Untuk hal ini, penulis mengambil pendirian bahwa dalam analisis geografi bisa jadi mengangkat kasus dengan analisis kasuistik, dan didalamnya analisis kausalis akan menjadi soko guru analisis geografi modern ini. Maka oleh karena itu, prinsip kausalistik dan kasuistik, dalam konteks pendapat penulis tantang gaya berfikir geografi sekarang ini, akan memiliki peran saling melengkapi (komplementatif) dan mendekatkan keilmuan pada titik nilai keakurasian analisis yang lebih baik lagi dibandingkan dengan hanya sebatas menggunakan salah satu gaya pemikirannya.

Yang menarik untuk diperhatikan oleh kita sekarang, adalah realitas objek kajian geografi saat kini tengah memiliki tantang yang amat mendasar. Terdapat pergeseran karakter fenomena geosfera. Realitas ini, yang menurut penulis perlu mendapat perhatian serius, pengamatan dan evaluatif lebih intensif lagi. Sehingga hasil dari pengamatan tersebut tadi mampu menangkap dan mengungkap ulang objek kajian geografi  aktual sekarang ini.

Melalui asumsi bahwa sebelum abad XXI ini, teknologi belum berperan besar dalam kehidupan manusia. Peradaban manusia di masa itu, masih banyak menampilkan satu pola peradaban yang tergantung pada alam atau banyak dipengaruhi oleh alam.
Determinisme lingkungan nampak banyak terjadi dalam sektor-sektor kehidupan manusia. Gejala tersebut tadi, amatlah kontras bila dikaitkan dengan pola kehidupan manusia sekarang ini. Dikala teknologi sudah mampu memasuki kamar pribadi, dan  memasuki setiap dimensi kehidupan manusia, maka manusia “seperti” kehilangan identitas (atau mengalami adanya penurunan derajat dan harga diri) bila tanpa diserta teknologi.


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar