Just another free Blogger theme

Kamis, 02 April 2026

Bila mencermati narasi yang muncul di media massa, tampaknya ada dua kategori narasi yang muncul. Narasi itu, memiliki intensitas yang berbeda, dengan aktor yang berbeda. Narasi itu, antara Iran dan Amerika Serikat, dan Iran dengan Israel. Kedua narasi itu, sejatinya, akan memiliki dua karakter dan implikasi yang berbeda.


Dua tema ini, menarik untuk dikaji secara cermat. Khususnya, membedakan antara yang terjadi dilapangan dengan yang terjadi di media massa. 

Sebagaimana disampaikan sebelumnya, bahwa dalam hal ini, ada dua  narasi yang berbeda. Narasi pertama, yakni konflik antara Pemerintah Amerika Serikat dengan Iran. Sayangnya, untuk menganalisis masalah ini, kita dihadapkan pada variasi masalah yang sangat beragam.

Kondisi narasi ini, bisa dibedakan antara dalam beberapa kategori, (1) perbedaan antara sikap pemerintah Amerika Serikat dengan rakyatnya sendiri. Sejumlah warga negara di Amerika Serikat,  melakukan protes keras terhadap sikap dan keputusan pemerintahnya, dalam melakukan penyerangan terhadap Iran. Realitas ini, kemudian dimanfaatkan oleh Pemerintah Iran, untuk menegaskan bahwa "Iran tidak bermusuhan dengan rakyat Amerika Serikat", sehingga dengan demikian, fenomena pertama ini, ada perbedaan sikap politik antara rakyat Amerika Serikat dengan Pemerintahnya.

Di sisi lain, ada realitas yang berbeda antara retorika Donald Trump dengan realitas. Trump berulang-ulang memberikan pernyataan bahwa Amerika mampu mengendalikan situasi, dan peperangan sudah dimenangkannya, kemudian kekuatan militer Iran dianggapnya sudah melemah. Retorikan politik Trump ini, ternyata, tidak tampak dalam kehidupan rakyat Amerika Serikat. Setidaknya, dengan adanya krisis minyak yang mereka rasakan, dan juga pemberitaan serangan Iran yang masih berkelanjutan, menunjukkan bahwa ada kontradiksi antara retorika Donald Trump dengan realitas politik di lapangan.

Kontroversi yang lainnya, terjadi antara pengakuan Donald Trump dengan sikap politik Pemerintah Iran.  Keyakinan ada upaya penghentian peperangan atau diplomasi Iran, disampaikan Trump secara berulang, dan secara berulang pula, dibantah oleh Pihak Iran. Perbedaan sikap dan pengakuan ini, menunjukkan perang dan peran media-politik, terasa lebih kuat, dibandingkan sikap dan tindakan diplomasi yang nyata di lapangan.

Semua itu, masih kita masukkan kategori narasi yang terkait konflik antara Iran dan Amerika Serikat. 

Padahal ada sisi lain, yang juga perlu diangkat ke permukaan, dan sayangnya narasi ini, adalah narasi yang hampir tenggelam oleh narasi Amerika Serikat - Iran. Narasi yang saya maksudkan ini, adalah narasi Iran dan Israel.

Untuk pembaca, mungkin masih ingat, bahwa yang memulai peperangan di Akhir Februari 2026 ini, adalah Israel. Kemudian Amerika Serikat terlibat, atas dorongan Israel kepada Pemerintahan Trump. 

Tidak ada informasi yang viral di media, mengenai siapa dan bagaimana kesepakatan antara Israle dengan Amerika Serikat.  Namun, jika ditarik ke permukaan, dengan ajuan pertanyaan, "sebenarnya aktor utama peperangan ini, Israelnya atau Amerika Serikatnya ?", Israel yang digendong Amerika Serikat, atau Amerika Serikat yang mendompleng peperangan Israel - Iran ? pertanyan dasar ini, penting untuk diajukan, bila kita bermaksud untuk merumuskan proposal perdamaian dalam konflik ini.

Hipotesis kita hari ini, (1) proposal perdamaian dengan Amerika Serikat, bisa jadi, jauh lebih mudah dibanding dengan perdamaian dengan Israel, (2) bila saja, target Amerika Serikat itu, soal nuklir, maka pembuktiannya sangat lebih mudah, dibandingkan dengan hasrat Israel untuk mengganti rezim dan ideologi Iran, (3) motivasi Israel dalam  peperangan dengan Iran, jauh lebih ideologis dibanding dengana genda peperangan Amerika Serikat yang lebih ke domain ekonomi atau keamanan regional.

Sampai saat ini, di media sosial kita, belum  muncul narasi perdamaian atau agenda deeskalasi perang antara Iran dan Israel. Narasi politik dari Pemerintah Israel pun, hampir tidak mengarah pada upaya deeskalasi atau perdamaian. Mengapa hal ini terjadi ? dan mungkin karena itu pulalah, maka perhatian terhadap sikap politik Israel, jauh lebih kompleks dibanding dengan sikap Trump itu sendiri.

Dengan memanfaatkan pandangan serupa ini, maka kegairahan kita menanti perdamaian antara Iran dan Amerika Serikat itu, sejatinya, tidak menggambarkan akan adanya keamanan wilayah di Timur Tengah. Hal itu, dikaitkan dengan asumsi, bila Israel tidak mengubah persepsi dan ideologinya mengenai Iran dan kawasan Timur Tengah.

Bagaimana menurut pembaca ?


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar