Wacana dan narasi tentang kecerdasan manusia, terus mengalami pertumbuhan, perkembangan dan juga dialektikanya sendiri. Tidak mengherankan, bila dalam beberapa tahun terakhir, perbincangan mengenai kecerdasan manusia itu, selain melahirkan pandangan yang beragam, pun memiliki perhatian seksama, bahkan sampai melahirkan disiplin ilmu tersendiri, khususnya mengenai neuroscience.
Dalam dari perkembangan ilmu
itu, perbincangan mengenai kecerdasan manusia, semakin dinamis, dan menarik
untuk terus dibincangkan. Lantas, bagaimana agama, memberikan pandangan atau
kontribusinya dalam wacana kecerdasan manusia ini ?
Tentu saja, umat Islam dengan keragaman latar belakang dan keilmuannya, dapat memberikan pertimbangan intelektual terkait kecerdasan manusia. Namun, satu diantara narasi yang bisa digunakan, yakni merujuk pada sabda Rasulullah Muhammad Saw, terkait hal ini.
Pada sebuah hadits, Rasulullah Muhammad Saw bersabda :
الْكَيِّسُ
مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ
نَفْسَهُ هَوَاهَا، وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ
Orang
yang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya dan beramal
untuk bekal setelah mati. Sedangkan orang yang lemah adalah yang mengikuti hawa
nafsunya dan berharap-harap kepada Allah (agar mengampuninya)"
Secara balaghah ada beberapa
hal penting, yang dapat dicermati dari hadist Rasulullah Muhammad Saw.
Pertama, hadits ini menggunakan model muqabalah (perlawanan perlawanan). Setidaknya ada tiga konsep perlawanan makna, yaitu cerdas (kayis) dan lemah (al’ajiz), menundukkan hawa nafsu (dana nafsahu) dan mengikuti hawa nafsu (attaba’a nafsahu hawahu), serta berbuat untuk akhirat (amila lima ba’da maut) dengan berharap kepada Allah (tamanna ’ala Allah). Penggunaan model muqabalah ini, ada kesan untuk mempertegas dan memperjelas pesan yang hendak disampaikan.
Kedua, dalam hadits itu pun,
terdapat majaz ‘aqli (kiasan intelek).
Setiap penerima pesan, hendak diajak untuk berpikir membandingkan antara orang yang menundukkan
hawa nafsu, dan yang mengikuti hawa nafsu. Dengan majazi ini, setiap penerima
pesan dipaksa untuk berpikir, menimbang dan merenungkan nilai hakiki dari pesan
tersebut.
Ketiga, dari majazi ’aqli ini masuk pada kinayah (sindiran halus). Aura sindirannya, sangat telak dan esensial. Selama ini, kita mengenal makna cerdas dan lemah, dari sisi intelektual atau kognisi. Melalui hadits ini, diperkenalkan makna kecerdasan dan kelemahan itu, dari sisi hakiki, yang antara yang rasional realistik dengan utopis. Makna ini, dapat kita tarik dari pesan, antara orang yang beramal untuk persiapan hidup akhirat, dengan sikap utopis yang berharap langsung mendapat ampunan dari Allah.
Terakhir, dengan pertimbangan
itulah, sejatinya kita mendapatkan pencerahan baru mengenai
makna cerdas dan lemah secara jelas dan tegas. Gaya bahasa (uslub) serupa ini, biasa disebut dengan gaya tasyrih wa idhah
(penjelasan melalui definisi).
Melalui penelaahan ini, setidaknya, kita menemukan dua wilayah kecerdasan. Rasulullah Muhammad Saw memancing kita untuk berselancar secara intelektual membagi kecerdasan menjadi dua.
Pertama, kecerdasan positif (positive
intelligence). Kecerdasan positif adalah kemampuan manusia dalam
memanfaatkan potensi diri dalam meningkatkan kualitas hidup. Setidaknya ada dua
sisi penting dalam kecerasan positif ini. Sisi pertama, kemampuan mengendalikan
diri, kemudian pada sisi lainnya, adalah kemampuan realistis, yang antisipatif
terhadap kehidupan di masa depan. Orang
yang cerdas, adalah orang yang mampu mengendalikan diri, sekaligus memiliki
kemampuan mitigatif, terkait kehidupan akhirat.
Pada sisi lain, ada yang disebut kecerdasan negatif (negative intelligence). Kecerdasan negatif adalah kemampuan seseorang untuk menghindari dari sisi yang melemahkan kualitas diri. Upaya penghindarian ini, harus dilakukan terkait dengan kuasa hawa nafsu, dan kebiasaan utopis.
Dua sikap dasar yang harus
dihindari, akan akan menjadi indikasi kelemahan atau kebodohan, yaitu mengikuti
hawa nafsunya dan berharap-harap kepada Allah (agar mengampuninya). Hawa nafsu
secara intrinsik memiliku kuasa memenjarakan. Hawa nafsu memiliki kuasa bisa
menguasai nalar dan pikiran sehat. Dengan adanya hawa nafsu, manusia kadang
tidak mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan, antara daya dan gaya.
Oleh karena itu, hawa nafsu ini, perlu dikendalikan, dengan maksud dan harapan
untuk bisa mendapatkan kebahagiaan dalam hidup.
Ada sisi lain, yang juga bisa menjebak seseorang pada kebodohan dalam hidup. Sikap yang menjebak seseorang pada kebodohan itu, adalah sikap berkhayal, atau utopis, atau mimpi disiang bolong. Tanpa melakukan hal baik dan kebaikan, namun dirinya berharap-harap kepada Allah (agar mengampuninya). Orang seperti ini, selain dijebak oleh mimpinya, juga, terjebak dalam nalar-utopisnya.
Lantas, di posisi manakah diri
kita saat ini ?

0 comments:
Posting Komentar