Just another free Blogger theme

Senin, 27 April 2026

Wacana dan narasi tentang kecerdasan manusia, terus mengalami pertumbuhan, perkembangan dan juga dialektikanya sendiri. Tidak mengherankan, bila dalam beberapa tahun terakhir, perbincangan mengenai kecerdasan manusia itu, selain melahirkan pandangan yang beragam, pun memiliki perhatian seksama, bahkan sampai melahirkan disiplin ilmu tersendiri, khususnya mengenai neuroscience.


Dalam dari perkembangan ilmu itu, perbincangan mengenai kecerdasan manusia, semakin dinamis, dan menarik untuk terus dibincangkan. Lantas, bagaimana agama, memberikan pandangan atau kontribusinya dalam wacana kecerdasan manusia ini ?

Tentu saja, umat Islam dengan keragaman latar belakang dan keilmuannya, dapat memberikan pertimbangan intelektual terkait kecerdasan manusia.  Namun, satu diantara narasi yang bisa digunakan, yakni merujuk pada sabda Rasulullah Muhammad Saw, terkait hal ini.

Pada sebuah hadits,  Rasulullah Muhammad Saw bersabda :

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا، وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ

Orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya dan beramal untuk bekal setelah mati. Sedangkan orang yang lemah adalah yang mengikuti hawa nafsunya dan berharap-harap kepada Allah (agar mengampuninya)"

 

Secara balaghah ada beberapa hal penting, yang dapat dicermati dari hadist Rasulullah Muhammad Saw.

Pertama, hadits ini menggunakan model muqabalah (perlawanan perlawanan). Setidaknya ada tiga konsep perlawanan makna, yaitu cerdas (kayis) dan lemah (al’ajiz), menundukkan hawa nafsu (dana nafsahu) dan mengikuti hawa nafsu (attaba’a nafsahu hawahu), serta berbuat untuk akhirat (amila lima ba’da maut) dengan berharap kepada Allah (tamanna ’ala Allah). Penggunaan model muqabalah ini, ada kesan untuk mempertegas dan memperjelas pesan yang hendak disampaikan.

Kedua, dalam hadits itu pun, terdapat majaz ‘aqli (kiasan intelek).  Setiap penerima pesan, hendak diajak untuk  berpikir membandingkan antara orang yang menundukkan hawa nafsu, dan yang mengikuti hawa nafsu. Dengan majazi ini, setiap penerima pesan dipaksa untuk berpikir, menimbang dan merenungkan nilai hakiki dari pesan tersebut.

Ketiga, dari majazi ’aqli ini masuk pada kinayah (sindiran halus). Aura sindirannya, sangat telak dan esensial. Selama ini, kita mengenal makna cerdas dan lemah, dari sisi intelektual atau kognisi. Melalui hadits ini, diperkenalkan makna kecerdasan dan kelemahan itu, dari sisi hakiki, yang antara yang rasional realistik dengan utopis. Makna ini, dapat kita tarik dari pesan, antara orang yang beramal untuk persiapan hidup akhirat, dengan sikap utopis yang berharap langsung mendapat ampunan dari Allah.

Terakhir, dengan pertimbangan itulah,  sejatinya  kita mendapatkan pencerahan baru mengenai makna cerdas dan lemah secara jelas dan tegas. Gaya bahasa (uslub) serupa ini,  biasa disebut dengan gaya tasyrih wa idhah (penjelasan melalui definisi).

Melalui penelaahan ini, setidaknya, kita menemukan dua wilayah kecerdasan. Rasulullah Muhammad Saw memancing kita untuk berselancar secara intelektual membagi kecerdasan menjadi dua.

Pertama, kecerdasan positif (positive intelligence). Kecerdasan positif adalah kemampuan manusia dalam memanfaatkan potensi diri dalam meningkatkan kualitas hidup. Setidaknya ada dua sisi penting dalam kecerasan positif ini. Sisi pertama, kemampuan mengendalikan diri, kemudian pada sisi lainnya, adalah kemampuan realistis, yang antisipatif terhadap  kehidupan di masa depan. Orang yang cerdas, adalah orang yang mampu mengendalikan diri, sekaligus memiliki kemampuan mitigatif, terkait kehidupan akhirat.

Pada sisi lain, ada yang disebut kecerdasan negatif (negative intelligence). Kecerdasan negatif adalah kemampuan seseorang untuk menghindari dari sisi yang melemahkan kualitas diri. Upaya penghindarian ini, harus dilakukan terkait dengan kuasa hawa nafsu, dan kebiasaan utopis.

Dua sikap dasar yang harus dihindari, akan akan menjadi indikasi kelemahan atau kebodohan, yaitu mengikuti hawa nafsunya dan berharap-harap kepada Allah (agar mengampuninya). Hawa nafsu secara intrinsik memiliku kuasa memenjarakan. Hawa nafsu memiliki kuasa bisa menguasai nalar dan pikiran sehat. Dengan adanya hawa nafsu, manusia kadang tidak mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan, antara daya dan gaya. Oleh karena itu, hawa nafsu ini, perlu dikendalikan, dengan maksud dan harapan untuk bisa mendapatkan kebahagiaan dalam hidup.

Ada sisi lain, yang juga bisa menjebak seseorang pada  kebodohan dalam hidup. Sikap yang menjebak seseorang pada kebodohan itu, adalah sikap berkhayal, atau utopis, atau mimpi disiang bolong. Tanpa melakukan hal baik dan kebaikan, namun dirinya berharap-harap kepada Allah (agar mengampuninya). Orang seperti ini, selain dijebak oleh mimpinya, juga, terjebak dalam nalar-utopisnya.

Lantas, di posisi manakah diri kita saat ini ?


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar