Just another free Blogger theme

Selasa, 21 April 2026

Pepatah nenek, di kampung halaman, begitulah seorang tetangga berucap. "Hayam oge, kudu nyiar pacokeun ka luar, mung embung kalaparan mah..". Begitulah kira-kira pepatahnya. Pepatah dalam bahasa Sunda, dan masih teringat dalam benak sang penutur hingga kini. 



Pepatah tadi, secara umum, mengandung makna, "ayampun, untuk mendapat makanan, harus keluar kandang, kalau tidak mau kelaparan".

Apakah pepatah itu, masih berlaku ? Khususnya, bagi anak GenZ saat ini, disaat tradisi keluar kandang itu, menjadi sekedar sebuah opsi ? bagi anak GenZ, keluar kandang, bukanlah kewajiban dan tidak menjadi sebuah keharusan, untuk sekedar mengisi perut. 

Bila demikian adanya, apakah pepatah itu, menjadi sesuatu yang  tidak relevan ? Di sinilah, kedalaman makna, terhadap sebuah kata, kadang tidak bisa disekedar dari bahasa, melainkan dari rasa, dan aktualitasnya.

Dengan kesadaran serupa itu juga, maka kemudian, kita dapat melontarkan kritik perlawanan terhadap narasi itu. Kita bisa melakukan aktivitas di dalam ramah, tidak mesti ke keluar kandang. Dari dalam rumah, bahkan, dari dalam kamar sekalipun, dan dalam kondisi berbaring pun, kita bisa melakukan aktivitas untuk mendapatkan apa yang diinginkan.

Setidaknya, begitulah sebagian anak Genz, dapat melakukannya. Untuk sekedar makan, tinggal buka aplikasi. pesan, bayar. maka pesanan pun, datang. Selanjutnya, disantaplah di dalam kamar itu sendiri.

Lha uangnya dari mana ? sama saja. Tinggal buka aplikasi, buat konten kreatif, atau berjualan online. Rezeki pun berdatangan. Selanjutnya, buka e-walet, dan gunakanlah untuk kebutuhan harian. 

Gampang kan, tidak mesti keluar kandang seperti ayam tadi ?

Bener juga. Dengan gejala serupa itu, kita melihat, bahwa pepatah Sunda itu, seakan-akan menjadi tidak berlaku, dan sudah tidak direlevan lagi. Pepatah itu, teranggap sebagai pepatah jadul, yang sudah kehilangan relevansinya dengan zaman.

"nanti dulu.." ungkap sang penutur itu. "Pepatah itu, bukan soal kata-kata. Pepatah itu, adalah soal makna".

Mengapa bisa begitu ?

"bukankah kita tahu ada pepatah, mati satu tumbuh seribu? ternyata, pernah kejadian, rakyat Indonesia kalah perang, yang ditandai dengan mati satu, malah gugur semua?.." katanya. "terus ada juga, saat ada seorang mahasiswa mati satu saat reformasi, kemudian malah tumbuh gerakan mahasiswa yang lebih dari seribu ?" Dengan kejadian itu, bukankah pepatah yang baru saja pun, seakan tidak relevan dengan kenyataan.

Benar juga.  Sebuah pepatah klasik, sebagai bentuk kearifan lokal, tidak bisa dilihat dari sekedar kata-kata. Pepatah klasik itu, perlu dicermatinya dari sisi ruh, pesan moral yang hendak disampaikannya. Pepatah klasik, tidak bisa sekedar dilihat dari kata-kata atau istilah yang digunakannya, tetapi perlu didalami makna dan pesan hakikinya. Di sinilah, kewajiban kita, anak muda di zaman kiwari untuk melakukan eksplorasi terhadapnya.

Begitu jugalah dengan pepatah di atas. Bila kita sekedar mengandalkan kemampuan bahasa saja, maka kebenaran linguistik itu, akan menjadi kendala bagi kita untuk mendapatkan makna budayanya. Untuk mendapatkan makna budaya, maka dituntut untuk menggali dari sisi kedalaman nilai dan hakikat pesan moralnya.

Salah satu pesan moral yang hendak disampaikan sang Nenek kepada kita, adalah "pentingnya ikhtiar'". Keluar kandang adalah melepaskan diri dari kestatisan. Berdiam diri, bukan secara geografik dan fisik, tetapi dari sisi psikologi, intelektual dan emosional.  

Dari konteks inilah, seorang GenZ yang rebahan di kamarnya, sejatinya ada yang aktif melakukan aktivitas intelektual digitalnya, sehingga bernilai produktif, tetapi ada juga yang pasif.

Pun demikian adanya, kita bisa melihat ada orang yang  keluar kandang, tetapi hilir mudiknya, sekedar menghabiskan waktu, dan modal. Sedangkan produktivitasnya lemah. Pengangguran pun, ternyata banyak yang kelalang keliling tidak karuan, dan tidak mendapatkan sesuatu apapun. Di sini, keluar kandangnya, tidak lebih dari ilustrasi kepasifannya sendiri.

Hanya  mereka yang bergerak itulah, yang bisa memiliki peluang dan harapan mendapatkan sesuatu yang baru. Apapun bentuk gerak yang dilakukannya.

Bagaimana menurut pembaca ? 


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar