Just another free Blogger theme

Rabu, 22 April 2026

Terlalu dini untuk menyebut sejumlah hal berikut sebagai aliran-politik Trump, atau Trumpisme. Tetapi, bila tidak segera disampaikan, khawatir kita pun, bisa terlena dengan situasi dan kondisi, sehingga menyebabkan proses pematangan dan kematangan demokrasi tertinggal.


Menyebutkan Trumpisme sebagai bagian dari transisi demokrasi, keliru. Setidaknya, bila ditetapkan dalam konteks keamerakserikatan. Karena, dunia memandang negara adidaya itu sebagai negara demokratis. Karena itu, apakah layak disebut Trumpisme sebagai fase transisi demokrasi, atau fase-demokrasi palsu (fake-democracy).

Hanya saja, jemari ini, merasa tertantang untuk menyebutkan beberapa hal pokok yang ada kaitannya dengan gaya politik Trumpisme.

Pertama, memainkan media sebagai corong politik. Selama perang Iran dan Amerika Serikat, Trump getol banget  menggunakan media sosialnya, khususnya Truth Social. Kita tahu, bahwa Truth Social (sering kali ditulis sebagai TRUTH Social) adalah sebuah platform media sosial yang diluncurkan oleh Trump Media & Technology Group (TMTG). 
Perang narasi dilakukan Trump untuk membangun citra politiknya dihadapan publik internal, maupun eksternal Amerika Serikat. Kendati tidak selamanya berhasil, namun pemanfaatan media sebagai saluran kepentingan politiknya, merupakan gaya Trumpisme di era peperangan kali ini.

Dari sisi ekonomi dan marketing, trik membuat banyak isu kontroversi melalui platform sendiri itu adalah nehnik. Artinya, dengan cara seperti, dia berharap mediasosial miliknya itu akan viral, dan diserbu masyarakat, sehingga bisa menghasilkan cuan. Isunya tidak disukai tetapi media produknya digunakan, dan mendatangkan cuan. Karena itu, dalam hal ini, publik harus cermat, jika memang tidak menyukai idenya, jangan like juga medsosnya. Karena, mereka itu, bisa jadi, motifnya adalah ekonomi !!

Kedua, isu yang diusung Truth Social, tentu saja adalah  visi politik penutur atau pemilik akunnya. Dalam hal ini adalah Donald Trump sendiri. Tidak mengherankan, narasi yang dibangun adalah narasi subjektif, yang kadang jauh dari realitas, khususnya dengan klaim-kalim kemampun militernya dalam mengondisikan Iran, di masa peperangan tersebut.

Manipulasi  berita atau narasi menjadi andalannya. Publik menyebutnya kebohongan melalui media sosial. Tetapi itulah, perang narasi atau wacana melalui media. Trumpisme, adalah politik yang menggunakn pendekatan manipulasi narasi untuk memainkan opini publik.

Ketiga, tentu orang berpikir, apakah hal ini, dilakukan oleh Donald Trump sendiri ? rasa-rasanya, untuk mengelola platform sosial yang aktif  merespon realitas politik, tidak bisa dilakukan sendirian, terlebih lagi, oleh politisi aktif. Hal itu, bukan berarti mustahil, namun, aktivitas formal politik sebagai elit politik pun, akan banyak menyita waktu, baik membaca perkembangan berita, maupun isu-isu sensitif yang hendak diresponnya. Sehubungan hal ini, maka peran netizen atau supporternya menjadi sangat penting.

Kehadiran tim pendukung, khususnya sebagai pendengung (buzzers) adalah bagian tak terpisahkan dari gaya politik Trump. Hal serupa, seperrti sejumlah buzzers dari kelompok Zionis Israel, yang kerap kali  menutupi kondisi, dengan memanipulasi narasi.

Keempat, tidak jarang pula, Trump memanfaatkan isu Islam sebagai dagangannya. Trumpisme dengan tegas, melakukan manipulasi data dan informasi mengenai gerakan dan kebangkitan Islam,  dengan hasrat politiknya untuk membangkitkan kebencian. Trumpisme dengan Zionis Yahudi Israelnya, mengangkat isu Syiah-Sunni sebagai sesuatu yang harus diwaspadai. Syiah Iran, menjadi sasaran untuk dihancurkan.

Dalam konteks ini, kita khawatir, tokoh Islam, atau elit politik Islam, yang semula menjadi panutan dalam gerakan ISlam, malah kemudian dijadikan sasaran tembak kelompok Trumpisme. Mereka melakukan penyerangan personal, terhadap tokoh Islam, yang selama ini, berdiri dibarisan Islam.

Kelima, menggunakan pendekatan playing fictim. Seperti yang juga dilakukan Netanyahu terkait kondisi negaranya. Netanyahu menyampaikan bahwa banyak korban anak dampak dari peperangan dengan Iran, dan Iran menyerang fasilitas sosial, sehingga kerusakan sosial terjadi di mana-mana. Netanyahu sendiri, tidak mengakui tindakan brutalnya, baik di Gaza, Palestina, atau Libanon selatan serta sejumlah kampus Iran. Pun demikian dengan Trumpisme, mereka mengklaim, bahwa blokade Selat Hormuz sebagai tindakan yang merugikan dunia, dan melanggarkan peraturan internasional, sehingga dunia harus menghukum Iran.

Unik memang dalam Trumpisme ini. Dia memancing masalah, setelah dibalas, kemudian memproklamasikan dirinya sebagai korban. Dia yang memanpilasi data duluan, dan memprovokasinya, tetapi setelah malah mengaku sebagai sasaran tembak politik.

Terakhir, sayangnya memang kebenaran itu, tidak selamanya bersahabat dengan media. Sedangkan buzzser dan Trumpiesme sangat dekat dengan media. Sehingga, kelompok itu, sangat mudah memproduksi berita, baik melalui media elektronik maupun media sosial. Dalam beberapa saat saja, mereka bisa memproduksi pesan-pesan buzzer dengan jumlah puluhan bahkan ratusan.

Pada ujungnya, akhir kisah ini, sosok yang benar, tidak selamanya tampil sebagai pemenang. Hal itu terjadi, karena mereka tidak  memiliki saluran, dan juga tidak getol melakukan pembelaaan melalui media sosial.

Pertanyaan kita hari ini, adakah kelompok politisi di negeri kita, yang memainkan peran dengan gaya Trumpisme ?


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar