Bahasa manipulatif itu politik. Politik itu manipulatif. Mungkin itulah, pelajaran penting yang dapat ditarik, dari pengalaman kita, menyaksikan retorika peperangan antara Iran melawan Israel-AS. Setelah itu, kita, yang jauh dari 'realitas' itu, kemudian menafsirkan kemungkinan dan memetakan kemungkinan-kemungkinan yang sedang terjadi.
Lha kok bisa ya ?
itulah kenyataan hidup kita hari ini. Dan realitas itulah, yang sedang kita hadapi hari ini. Sejumlah informasi yang ada saat ini, dan ada dihadapan kita hari ini, bukanlah pesan-pesan yang memberikan makna, tetapi pesan-pesan yang menyembunyikan makna, dan atau malah makna itu, tersembunyi dari kode-kode bahasa secara global.
Ah, masih bingung juga ya ?
Bisa jadi demikian. Kita masih bingung. Tetapi, kalau kita amati bersama, dan secara perlahan, kita akan merasakan bahwa kesan-kesan yang kita simpulkan tadi.
Kita mulai dari pemberitaan di awal peperangan. Ingat peperangan ini, bukan peperangan Iran melawan Israel. Secara faktual, peperangan ini, adalah peperangan Iran melawan Israel - Amerika Serikat. Oleh karena itu, kurang tepat, bila disebut dan atau bila ditulis, perang Iran dengan Israel, karena sejatinya negara yang menyerang Iran itu, secara bersamaan, yakni Israel dengan Amerika Serikat, oleh karena itu, peperangan ini, adalah Iran melawan Israel/AS. Konsep ini, perlu dijelaskan dan dipertegas, supaya pembaca paham. Dengan kata lain, bila ada yang menyederhanakan tulisan dengan Iran melawan Israel (saja), adalah keliru, karena peperangan itu, antara Iran dengan Israel/AS.
Disinformasi berikutnya, dan atau perang media lainnya, yaitu terkait dengan kondisi Benyamin Netanyahu. Informasi dari negeri Iran, sangat jelas dan tegas, bahwa saat ada serangan pertama dan pemula, dari Israel/AS yang ujug-ujug menyerang Iran, kemudian menewaskan Ayatullah Ali Khamenei, keluarga dan pejabat negara lainnya. Setelah itu, kondisi ini pun terkonfirmasi resmi dari internal negara Iran.
Hal berbeda dengan kondisi Benyamin Netanyahu. Sempat beredar dia sudah mati. Bahkan, ada pula medsos yang menunjukkan berita dari Presiden Rusia, serta berita lapangan terkait kematian Benyamin Netanyahu. Jabat media pun, ramai dan saling bahas, bahkan, akademisi atau pengamat pun, memberikan tanggapan, ragam kemungkinan yang terjadinya.
Pada level inilah, kita yang ada di sini, saling menafsirkan simpangsiur informasi. Termasuk para pengamat. Menafsirkan pesan dan informasi yang ada di media, sementara kebenaran informasi yang dibawa oleh media pun, masih diragukan, karena saling simpangsiur. Termasuk pada akhirnya, ternyata, berita kematian Benyamin Netanyahu itu, dianggap sebagai informasi manipulatif, untuk sekedar kepentingan politik belaka.
Manipulasi informasi sebagai strategi politik itu, dilakukan pula oleh Donald Trump. Hampir setiap saat, media kita memberitakan pernyataan sikap dari Donald Trump, dan tampaknya hampir tiap hari atau tiap saat, Donald Trump memberikan pernyataan politik. Diantara pernyataan politik, "AS memenangkan peperangan", "Iran mengajukan negosiasi kepada AS", "peperangan akan segera diakhiri", "AS tidak butuh selat Hormuz", kemudin, ada juga berta bahwa "kekuatan Iran sudah melemah", dan lain sebagainya.
Apakah pernyataan itu, benar ? Bila dianggap benar, lantas mengapa kita masih menyaksikan sejumlah rudal yang dikirim secara rutin oleh Iran ke sejumlah pangkalan militer AS di sejumlah titik di kawasan Timur Tengah, dan juga dikirimkan ke Israel ? bila memang sudah melemah, mengapa hal ini, masih terus terjadi ? termasuk di dalamnya, ada pernyataan tandingan yang menolak pernyataan Donald Trump dari pihak militer Iran.
Ragam berita itu, jelas memberikan sebuah pesan, bahwa pernyataan-pernyataan itu, tentunya ada yang dimanipulasi. Tetapi, kita semua paham, manipulasi informasi, dalam komunikasi politik di situasi perang ini, bisa memiliki nilai politis. Setidaknya, meredakan kegaduhan di internal, dan atau memantik kegelisahan pada lawan politik. Kesimpulan yang terakhir itulah, yang kita maksudkan dengan menarik pesan dari kode-kode informasi secara umum, dan tidak terjebak pada informasi parsial !
Bagaimana menurut pembaca ?

0 comments:
Posting Komentar