Just another free Blogger theme

Jumat, 20 Maret 2026

Alhamdulillah. Lebaran sudah kita lewat. Berhari raya, beridul fitri, sudah kita jalani bersama. Ya, kita lakukan bersama, baik dengan keluarga, tetangga, sanak saudara, kenalan, dan bahkan tetangga di lingkungan rumah kita, walau kadang berbeda latar belakang keagamaan. Namun, setidaknya, pancaran kebahagiaan berhari-raya, dapat dirasakan, dan ditularkan energinya kepada orang yang ada di sekitaran kita.



Soalan kita hari ini, tentunya, buka soal lebaran atau idul fitrinya saja. Selepas kita, berkunjung ke sanak saudara, dan bahkan ada yang nadran atau nyekar, atau ziarah kubur, ke leluhur,  kemudian kita pulang kembali ke rumah tinggal kita, dan duduk istirahat di lorong rumah, atau di ruang tamu.

Bisa saja, ngumpul dengan anggota keluarga. Bisa pula, hanya dilakukan sendiri. Dan, saat sendiri atau menyendiri itulah, muncul pertanyaan, dan pikiran, "apa yang akan dilakukan, setelah iduil fitri ini ?"

Meminjam istilah di media sosial, apa resolusi kita, untuk masa depan, selepas idul fitri ?

Resolusi, dalam konteks hubungan internasional, biasanya diartikan sebagai kesepakatan bersama. dari hasil musyawarah atau kerjasama. Kalau dalam konteks pribadi, resolusi adalah komitmen pribadi, untuk masa depan. Resolusi adalah niat, tekad, rencana, rancangan atau komitmen pribadi untuk masa depan. Tentu saja, resolusi ini, adalah hasil dari refleksi dan evaluasi terhadap hasil-hasil  kinerja kita di masa lalu.

Bila saja, Ramadhan adalah proses pendidikan. Maka, di hari fitri ini, kita membuat resolusi paska idul fitri untuk diri kita, lingkungan dan masa depan kita. Andai saja, Ramadhan kemarin, dimaknai sebagai proses belajar yang berkualitas baik, maka diharapkan rancangan di masa depannya pun, adalah supaya lebih baik. 

Lantas, bagaimana, bila hasil dari proses belajar selama Ramadhan kita, belum maksimal, dan atau belum menunjukkan hasil yang baik ? maka resolusinya, adalah perlu ada penambalan kinerja, supaya hasil di hari esok bisa lebik baik.

Sekali lagi, Ramadhan adalah bagian dari investasi, atau lebih tepatnya momen akumulasi modal untuk bekal di kehidupan, di 11 bulan  yang akan datang.  Modal yang sudah diinvestasikan, selama ramadhan itu, jumlahnya mungkin jadi berbeda-beda. Si A akan memiliki inevst yang berbeda dengan si B, atau si Z.

Dengan adanya perbedaan invest yang dimiliki, hasil dari akumulasi kegiatan di Ramadhan itu, maka, mau tidak mau, kita perlu merumuskan model rancangan hidup yang berbeda, antara satu dengan yang lain. Tidak bisa disamakan, dan tidak mungkin di samakan. Maka karena itu, disinilah, letak pentingnya resolusi paska idul fitri.

Untuk konteks ini, banyak diantara kita yang lupa. Resolusi hidup itu, walau kadang  lebih sekedar tulisan, atau kata-kata tidak banyak dampaknya, namun, kerap kali kita hanya melakukannnya, saat pergantian tahun.  Padahal, dalam hemat penulis, lebih tepat dilakukan, paska lebaran. 

Mengapa ?

Setelah lebaran ini, khususnya seorang muslim, secara teologis sedang berada pada posisi 'Nol" atau "suci" atau "fitri". Sedangkan secara psikologis-teologi, seorang muslim yang beridul fitri, berada dalam posisi dipuncak spiritual, karena memiliki investasi amalan yang luar biasa. amalan yang dilakukan selama Ramadhan, yang lalu.

Sehubungan hal itu, maka langkah penting, dan pertanyaan penting itu, adalah "apa yang akan dilakukan, dengan modal spiritual, yang dimiliki hari ini ? akankah diivenstaikan pada amal kebajikan yang lain ? atau dibiarkan membusuk dan menyusut, karna tidak mampu merawatnya ?"

  

Categories: ,


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar