Just another free Blogger theme

Selasa, 24 Maret 2026

Ada satu gejala yang menarik, dalam peperangan Iran - Israel/AS. Kemenarikannya itu, yakni terletak pada tangguhnya Iran dihadapan musuhnya, Israel/AS, kendati pimpinan tertinggi dan sejumlah pejabat tingginya, sudah gugur di medan perang. 



Apa yang menarik dari fenomena ini ?

Betul. Sisi menariknya itu, adalah solidaritas dan loyalitas pasukan, warga negara dan elit politik di Pemerintahan Republik Islam Iran. Kekompakkan mereka, bukan basa-basi, dan bukan ecek-ecek. Hal terbukti, setidaknya, selepas 3 minggu mereka menjalani peperangan melawan musuhnya, yaitu Israel/AS.


Dalam memahami hal ini, setidaknya ada lima kritis, yang bisa kita sampaikan di sini.  Pertama, loyalitas dan solidaritas warga dan pasukan Iran, memberikan bukti  nyata, gagalnya dan salahnya persepsi Israel/AS, terkait proses suksesi kekuasaan. Donald Trump memandang bahwa dengan gugurnya pimpinan tertinggi Negara Republik Islam Iran, akan memudahkan terjadinya pergantian rezim. Pandangan dan dugaan itu, ternyata gagal total. Bagi Masyarakat dan Elit Iran, gugurnya Ali Khamenei, tidak menyebabkan ada perubahan rezim, dan malah memperkokoh solidaritas pasukan dan warga negaranya.

Kedua, Negara Republik Islam Iran, bukan warga negara di atas papan catur. Kita semua paham, bahwa di atas papan catur, peperangan dimenangkan dengan hanya mengandalkan satu indikator, yakni gugurnya pimpinan tertinggi (raja). Selain itu, tidak jadi masalah. Artinya, kendati sudah gugur puluhan pasukan, prajurit atau kepala militer, namun saat Raja  masih berdiri tegak, dan menjadi simbol negara, maka negara itu masih berdaulat. Dalam hal ini, Negara Republik Islam Iran, tampak dan tampil bukan sebagai negara di atas papan catur. Negara berdiri diatas kedaulatan dan loyalitas warga negaranya.

Ketiga, secara politik dan konstitusi, Pimpinan Tertinggi (apapun sebutannya), adalah simbol negara. Di Negara Iran, memang ada dua pimpinan, yakni kepala pemerintahan dan kepala negara (presiden).  Mirip seperti parlementer, hanya saja, di negara itu, menggunakan sistem pemerintah teokrasi, dengan mengakui posisi dan kekuasaan pemimpin spiritual sebagai pemimpin tertingginya.

Hal yang menariknya, dengan kejadian dan peristiwa dalam peperangan itu,  negara tidak bergantung pada figur atau orang-perorangan. Kendati kekharismaan Ayatullah Ali Khamenei sudah tidak diragukan, tetapi tidak terjadi pengkultusan yang kaku. Sehingga, pada saat, beliau gugur di hari pertama peperangan Iran - Israel/AS, pejabat negara dan kaum Mullah (dewan keagamaan Iran), langsung mengambil inisiatif memilih penggantinya.

Pada konteks itulah, Negara Republik Islam Iran, benar-benar bukan negara di atas papan catur, yang mengkultuskan orang perorangan, tetapi menganut pada sistem-kehidupan yang kuat dan kokoh. Dengan kata lain, keberlangsungan negara, adalah hal utama, dibanding dengan posisi dan kehadiran orang-perorangan.

Keempat, ada ideologi-kebangsaan dan kepentingan negara yang mengakar kuat pada elit politik, atau warga negara. Sudah bisa dibayangkan, bila situasi dan kondisi itu, terjadi pada negara yang elit politiknya oportunis, dan kemudian rakyatnya pragmatis. Maka, saat ada dalam kekacauan, kengerian akibat peperangan, dan gugurnya pimpinannya, maka bukan hal mustahil akan terjadi kekacauan pada negara tersebut.

Terkait  hal inilah, seperti banyak disampaikan oleh pengamat militer dan politik, bahwa Israel/AS, gagal memahami karakter masyarakat dan elit  negara Iran. Mereka menduga, bahwa dengan gugurnya pimpinan mereka, kemudian akan dengan mudah menggantinya dengan rezim yang dapat dipilih Israel/AS. Trump-Netanyahu, gagal paham dengan kondisi kultural bangsa Iran, yang ternyata tidak bisa dijadikan negara bidak-diatas-papan catur.

Terakhir, ketahanan kultural dan loyalitas kebangsaan, ternyata benar-benar sangat penting dan vital. Kita bisa membandingkan, kejadian antara Iran dan Venezuela. Pada negara yang terakhir ini, karena ulah AS juga, saat presidennya diculik Trump, kemudian terjadi perselisihan elit di negaranya, dan terjadinya pergantian rezim. Di internal warga negara Venezuelanya sendiri. Terjadi friksi antar kelompok, sehinggfa Venezuela ada dalam situasi ketidakpastian politik.

Sekali lagi, mengapa hal ini, tidak terjadi di Iran ? salah satu jawabannya, yaitu loyalitas elit terhadap negara jauh lebih kuat dan kokoh, dibanding terhadap kepentingan pribadi. Oleh karena itu, keberlanjutan dan kestabilan politik negara, menjadi truhan utama, dibandingkan dengan  memperjuangkan kepentingan politik, denganc ara memanfaatkan situasi yang tidak menentu.

Inilah yang menarik dari fenomena Iran saat ini. Pertanyaannya, akankah, situasi ini, ada di tengah bangsa kita ?

Bagaimana menurut pembaca ?


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar