Just another free Blogger theme

Senin, 30 Maret 2026

Lebaran atau idul fitri sudah berlalu. Beberapa hari lalu. Pada pekan ini, kegiatan rutin umat Islam, disejumlah titik daerah di Indonesia, dan mungkin orang Melayu, yaitu kegiatan shilaturahmi, atau kegiatan halal bihalal. 


Hampir bisa dipastikan, itulah kegiatannya.  Di awal kegiatan rutin, baik itu di sekolah, perkantoran, atau perusahaan.  Kegiatan hari pertamanya, adalah halal bihalal. Isinya, selain bersalaman, tentunya ada bentuk syukurnya, yaitu makan bersama dengan rekan sekantor.

Di sela-sela kegiatan itulah, ada khutbah dari pemuka agama. Temanya pun, tidak jauh, dari membahas makna dan hikmah idul fitri, dan atau tentang shilaturahmi.

Mungkin, banyak orang sudah bisa memahami dan memaklumi konsep kesucian atau kefitrian manusia, secara agama. Namun, rasanya, bagi kita, masih ada sedikit waktu, untuk merenungkan kembali makna kesucian ini.

Benarkah kita, sudah kembali kekesucian ? atau kepada kefitrian ?

Secara sosial, sejatinya ada tiga kelompok manusia-muslim yang menjalani hari lebaran ini. 

Pertama, mereka yang turut merayakan lebaran atau turut merayakan idul fitri. Hampir dipastikan, seluruh umat Islam yang sadar, dan bisa beraktivitas, akan merayakan idul fitri ini. Mulai dari anak kecil, sampai orang lanjut usia. 

Pada kelompok ini, hadir turut serta merayakan idul fitri, kendati mungkin selama ramadhan tidak melaksanakan ibadah shaum ramadhan, atau amalan sunnah ramadhan lain. Mereka tampil dengan baju baru, berkeliling dan berkumpul dengan kelompoknya atau komunitasnya.

Mereka yang merayakan lebaran, tidak dilihat dari kualitas kesalehannya. Ciri utama dari kelompok ini, mereka cerita dan turut bergembira melaksanakan lebaran, di hari idul fitri.

Kedua, mereka yang merasakan kesucian. Kelompok ini, jumlahnya lebih sedikit dari kelompok pertama. Indikasi utama dari kelompok ini, mereka merasa bahagia, karena sudah sampai pada lebaran, dan merasa yakin, berkah Allah yang Mahasuci hadir dalam dirinya. Mereka yakin, bahwa di hari ini, saat idul fitri ini, jiwa mereka ada dalam kesucian.

Sekali lagi, kelompok ini jumlahnya bisa jadi lebih sedikit dari kelompok pertama. Kalau yang pertama merayakan idul fitri, maka yang kedua ini adalah merasakan idul fitri atau merasakan kesucian.

Optimisme atau keyakinan akan kesucian ini, setidaknya mereka rasakan dan dapatkan, karena sudah merasa, bahwa selama Ramadhan sudah bisa melaksanakan shaum ramadhan sebulan penuh, shalat tarawih dapat ditunaikan dengan baik, dan tadarusan al-Qur'an dikhatamkannya selama satu bulan. Karena amalan yang sudah dilakukannya itu, maka kemudian, dia merasa berhak untuk mendapatkan derajat kesucian di hari raya fitri ini.

Agenda shilaturahminya pun, dilakukan dengan penuh suka cita kepada sanak saudara. Keharian dan pengakuan kesadaran terhadap kualitas kesalehannya, dilantunkan dihadapan orangtua dan saudara, dan  berharap penuh mendapat permaafan dari mereka.

Terakhir, adalah kelompok yang mendapatkan kesucian secara berkelanjutan. Siapa mereka ini ? mereka adalah yang merasakan kesucian, dan kemudian berusaha keras dan memiliki kemampuan untuk terus menjaga kesuciannya untuk beberapa hari mendatang.

Salah satu pesan dari Khatib, saat idul fitri, yang kerap terungkap dan terlontarkan dari lisannya, adalah ramadhan adalah bulan latihan, sedangkan idul fitri adalah pengakuan, maka eksistensi yang sejatinya, saat mampu menjaga kefitrian secara berkelanjutan.

Secara hipotetis, kelompok ketiga ini, jumlahnya diperkirakan, jauh lebih sedikit dari kelompok kedua. Sebagian orang memandang, mungkin dari kelompok ini, adalah kelompok yang mendapatkan berkah malam-kemulyaan (lailatul qadr). Mungkin juga, disebut sebagai orang yang mampu menunjukkan pertaubatan yang sejati atau taubatan nasuha.

Terkait hal ini, dimanakah posisi kita hari ini ? 



Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar