Seperti yang lain, dan seperti orang lain, pelaksanaan ibadah shalat Iedul Fitri, dilaksanakan di lapangan terbuka. Seperti itu jugalah, yang saya alami hari itu. Hari raya 1447 H, atau 21 Maret 2026.
Iya, betul, saya termasuk orang yang 'taklid politik' dalam berlebaran. Pelaksanaan hari raya idul fitri yang saya jalankan itu, senantiasa dan selalu, mengikuti petunjuk dari Pemerintah. Alasannya, sangat sederhana, saya, tidak memiliki kemampuan menghisab, dan juga tidak memiliki waktu untuk merukyah. Maka karena itu, manut saja, kepada mereka yang memiliki kewenangan dan waktu untuk melakukan hal itu.
Adapun dalam pelaksanaannya, maklum saya sebagai perantau, maka jadwal shalat lebarannya, bergantian. Kadang di perantauan, dan kadang di kampung halaman. Untuk tahun ini, kami sekeluarga, mengikuti kegiatan lebaran di kampung halaman.
Seperti yang ditulisakan dalam karya yang dipublikasikan tahun ini, beruntung ada Ramadhan, sehingga, kita bisa melakukan shilaturahmi. Shilaturahmi dengan keluarga di kampung halaman, dengan maksud dan tujuan untuk memperkokoh persaudaraan. Itu saja. Semangat dan gairah itulah, yang penulis rasakan saat itu.
Sewaktu menunggu tiba shalat Ied, kamu semua duduk diatas hamparan sajadah. Ada juga yang membawa tikar. Tikar plastik, karena tadi malamnya, sempat ada rintik-rintik hujan, yang menyejukkkan kota Angin di Jawa Barat ini.
Sang Bilal, sudah sejak tadi pagi, bahkan dini hari, melantunkan kalam takbir. Kampung kami menyebutnya, takbiran. Sungguh luar biasa, suara masih sangat jelas. Iya, juga sih, karena memang tidak semalaman suntuk, takbiran sendirian. Takbiran di kampung biasanya banyakan, anak kecil, remaja dan juga dewasa. Mereka bersemangat.
Hal yang menarik, dalam kesempatan ini, bilal dengan lantang menyampaikan pesan kepada Jama'ah. Bahasa yang digunakan bahasa Arab. Banyak diantara kami, yang tidak paham tentang hal itu. Namun, satu atau dua kata, kami, sebagai jama'ah, paham, karena beberapa kali, ada ustadz di kampung, yang melakukan tarawih keliling menjelaskan etika shalat iedul fitri.
'"anstitu was'ma'u wa athi'u rahimakumullah...", itulah penggalan yang sempat dinasihatkan kepada kami. Maknanya, ya, kurang lebih, diamlah, dengarkanlah, dan taatilah, semoga kalian yang hadir dan mendengarkan ini, mendapat rahmat dari Allah Swt.
Sebagian jama'ah, menganggap bahwa kalam bahasa Arab itu, baku dan standar, dan bahkan, sesuatu yang dilantunkan sahabat, dan juga Rasulullah Muhammad Saw. Maka, kami hanya diam, dan mendengarkan saja.
Namun untuk kali ini, sebelum Khatib naik mimba, sang Muraqqi atau bilal, di sela-sela ucapannya itu, ada tambahan kalimat, tentu saja, dalam bahasa Arab, namun intinya mengatakan, "bulan ini, adalah bulan Ramadhan, hari ini, adalah hari kemengan, hari ini, adalah hari idul fitri, maka....", lanjutannya kalimat yang awal tadi, dengan harapan jama'ah mau serius menyimak khutbah idul fitri.
Bagi yang kurang paham, akan berdiam seribu bahasa. Tetapi, bagi yang paham, bisa senyum-senyum kecil dibuatnya.
"ada pembaharuan..." ucap anggota jama'ah, yang ada dalam barisan itu. Ucapan itu, mungkin tidak banyak yang langsung ngeh. Tetapi, bagi mereka yang terbiasa, menyimak ucapan muraqqi atau bilal, atau "MC"nya dalam ibadah shalat berjama'ah, maka dia sudah paham, maksud dan tujuan dari ucapan itu.
Saya sendiri, sebagai orang yang hadir di tengah kerumunan jama'ah itu, merasakan ada sesuatu yang unik. Unik, tetapi, mungkin itulah, pembaharuan yang tidak terasa mengagetkan, dan tidak langsung dihukumi bid'ah, karena dianggap berbeda dari papakem yang sebelumnya, atau yang lainnya. Dan, mungkin, itulah yang disebut, dengan pembaharuan agama gaya kampung, sedikit demi sedikit, dan tidak membuat kegaduhan di masyarakat !!!
Bagaimana pendapat pembaca ?

0 comments:
Posting Komentar