Just another free Blogger theme

Senin, 16 Maret 2026

Sedih. 

Itulah kata, yang terendapkan dalam pikiran. Setelah berlalu beberapa hal dalam pengalaman hidup ini. Di hari itu, terpikirkan, bahwa hari ini, saya merasa sedih.



Ya, mungkin, kalian bertanya. "gak salah alamat tuh, masa yang disebut sedih, tapi terendapkannya dalam pikiran?"

Betul sekali. Saya juga, tidak mengerti. Mengapa masalah ini, malah mengendap dalam pikiran ini, dan kemudian bernafsu untuk menuangkannya. Menuangkan dalam tulisan ini, untuk sekedar menuliskan, pencaharian diri, mengapa saya merasa sedih, atau lebih luasnya, mengapa ada orang yang merasa sedih?

Tanpa bermaksud untuk berkhayal, terbayang sudah. Bagaimana sebagian diantara warga Iran, menderita, dan sedih dengan keadaannya. Atau, sebagian warga Israel panik, dan merasakan sedih. Atau, warga Gaza dan Palestina, merasa sedih akibat peperangan. Atau, warga Ukraina, merasa sedih, dengan peperangan yang berlarut-larut.

Tentu saja, sekali lagi, bisa jadi, ada diantara mereka yang tidak sedang bersedih, kendati ada dalam cekaman peperangan. Artinya, ada sebagian warga Iran yang bahagia, karena mampu menembus rudal ke pangkalan militer musuhnya. Ada sebagian warga Israel yang berbahagia, melihat pimpinan Iran ada yang sudah menjadi korban peperangan. Ada sebagian warga Ukraina, yang merasa bahagia karena mampu  bertahan dari gempuran Rusia, selama ini.

Lha, bagaimana ini ? masa dalam satu situasi, dan  dalam satu komunitas, kok masih ada perbedaan respon terhadap situasi peperangan itu ? mengapa ada perbedaan respon dari warga Iran, Ukraina, atau Israel terhadap situasi peperangan itu ?

Itulah realitas hidup. Saat kita bahagia, ada tetangga yang  bersedih, dan saat kita bersedih, bisa jadi, ada sebagian orang yang sedang berbahagia. Itulah realitas hidup, dan kehidupan ini. Kendati kejadiannya sama, namun atmosfer hidup yang menerpa seseorang, akan berbeda rasanya. Tak ubahnya juga, saat kita menikah dengan pasangan kita tercinta, dalam waktu yang bersamaan, ada orang yang sedih, karena sudah tidak ada kesempatan lain untuk bersaing dengan kita untuk mendapatkan impiannya.

Benarkan ?

Ya, betul. Pasangan kita, adalah orang terbaik pilihan kita, dari opsi yang ada di sekitar kita. Tetapi orang yang mengharapkan cinta dan kasih sayang dari pasangan kita, bisa jadi, bukan hanya diri kita, dan bukan hanya satu orang saja. Maka dari itu, saat kita melangsungkan pernikahan dengannya, bisa dibayangkan, ada berapa orang yang putus-rasa, karena gagal dalam persaingan itu. Tentunya, disaat kita bahagia, ada orang yang merasa sedih, pun demikian sebaliknya.

Lantas, mengapa kita, saya, atau Anda, atau siapapun, pernah merasakan sedih. Mengapa kita sedih dan bersedih ?

Dari pengalaman inilah, saya merasakan bahwa sedih itu sendiri adalah respon subjektif terhadap situasi. Saya sedih, karena gagal mendapatkannya, adalah respon subjektif. Saya sedih, karena tidak bisa ikut piknik bersama rekan-rekan, adalah respon subjektif. Saya sedih, karena tidak bisa buka bersama dengan teman sekelas, adalah respon subjektif.

Realitas objektif, bisa jadi sama, piknik, bukber, pernikahan, kuliah, diterima kerja, dan lain sebagainya. Itu adalah realitas objektifnya. Sedangkan kebahagiaan dan kesedihan, sejatinya terjadi, karena adanya respon dari diri kita, yang hadir secara subjektif.

Kealpaan sejumlah informasi, yang menyebabkan  kita merasa kurang, dan lemah, potensial menyebabkan lahirnya sedih. Saat melihat orang lain menikah, dan kemudian kita 'kurang informasi' bahwa ada pilihan lain, di luar sana, yang bisa menjadi opsi kehidupan kita di masa depan, maka kita akan merasa sedih, karena seakan masa depan kita, tertutup sudah. Kiamat !

Kealpaan sebagian informasi, terkait dengan sisi lain dari peperangan Iran-As/Israel, potensial menyebabkan kita sedih. Sedih karena ada pihak yang kalah, dan pihak yang hancur berantakan. Tetapi, manakala ada sisi objektif, bahwa dari peperangan ini, kemudian menghadirkan tatanan keamanan dunia yang stabil, maka orang akan mengartikan bahwa peristiwa kali ini, adalah bagian dari skenario menutu tatanan dunia baru. Semoga demikian !

Pada sisi lainnya, kita sepakat bahwa kesedihan, yang hadir dalam diri kita, memberi indikasi ada kelemahan, ketidakberdayaan, atau kekurangan yang ada dalam diri kita, yang kemudian tampak ke permukaan. Saat aib terbuka, kebohongan terungkap, dan kejahatan terbongkar, sedangkan mental tidak siap dan tidak mendukung keadaan itu, maka dia akan merasa sedih.

Pernah dikesalkan. Ada orang yang terbongkar aibnya. Eh, dia tidak merasa sedih. Dia bisa ketawa ketiwi ke sana  kemari. Padalah sedan disidang, dia malah tidak menunjukkan kesedihan, malah kita yang menyaksikannya yang kesal terhadap kelakuannya. 

Apa maknanya ? kendati keburukan atau aib terbuka, bila saja, sudah menjadi karakter-buruk dalam dirinya, memang tidak menyebabkan dirinya sedih. Dia akan menunjukkan kenampakkan sikap yang biasa saja, dan tidak ada perubahan sikap dan mental dalam dirinya. Oleh karena itu, sedih dan kesedihan akan muncul disaat ada nurani dalam dirinya, mengenai standar baik dan kebaikan, dan kemudian ada secuil kelemahan, ketidakberedayaan atau aib yang terbuka. Pada situasi serupa itulah, kesedihan itu, muncul dan mengemuka dalam diri kita.

Apakah dengan demikian, perasaan sedih dan kesedihan itu, adalah alamiah dalam diri manusia ?

Bila yang dimaksud alamiah itu adalah sesuatu yang natural dalam diri manusia, maka, bisa jadi jawabannya, "tidak", atau "bukan". Sedih, atau kesedihan, sifatnya adalah eksternal. Aksiden. Artinya, kesedihan hadir dan tumbuhkembang dalam diri kita, karena ada stimulan dari luar, yang kemudian direspon oleh diri kita. Pilihan respon itulah, yang menyebabkan seseorang, bisa sedih atau bahagia.

Sekali lagi, dalam konteks ini, sedih bukan sifat alami manusia, tetapi sifatnya adalah aksiden, karena muncul dan berkembang karena ada insiden dari luar, yang kemudian ada respon dari dirinya sendiri. Dengan kata lain, manakala kita meresponnya dengan cara lain, mungkin kondisi hati dan perasaan kita, akan lain lagi. 

Pernahkah mendengar ada ucapan. "jangan putus rasa, bila kita diputusian cinta oleh calon pasangan ?", tentu pernah dengar. Tetapi, pernah mendengar, ada orang yang tidak mau makan, tidak bisa tidur, dan malah menyiksa diri, gara-gara itu ? tentu saja, pernah. Kondisi orang itu, sedih dan menyedihkan. 

Lain, lagi dengan ucapan orang, "berterimakasihlah kepada sejarah, karena kita sudah diselamatkan orang sedini mungkin, dari pengkhianat, dan tidak akan bisa setia kepada kita." Diputusian hari ini, artinya, potensi penderitaan di hari esok, sudah dihentikan saat ini. Maka berbahagialah ???

Ah, mungkin itu, sekedar basa-basi. Tetapi, itulah pilihan respon terhadap situasi objektif dalam kehidupan kita, sehingga kita, bisa memilih, hendak bersedih atau berbahagia ?

Sama serupa dengan pengalaman pribadi hari ini. Sejatinya, dalam 24 jam terakhir ini, ada rasa sedih mengendap dalam jiwa ini. Namun, rasa sedih itu, kemudian saya giring ke penalaran, sehingga muncul perasaan untuk menuliskannya dalam ruang-kecil ini.  Perjalanan panjang saat menuliskannya inilah, emosi, jiwa, dan rasa ini, sedikit lega, karena kesedihan dan kepedihan ini, telah tersalurkan dalam narasi yang ada saat ini.

Bagaimana menurut pembaca ? 


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar