Tidak beda jauh dengan selepas perayaan Tahun Baru. Euporia sebelum hari-H, sewaktu hari-H, dan lupa ingatan, selepasnya. Begitulah pengalaman kita, selepas merayakan idul fitri. bukan hanya tahu ini saja, tetapi tahun-tahun sebelumnya pun, kerap kali, serupa dan semakna ini.
Hampir bisa dipastikan, paginya lelah, tetiduran sepanjang hari, dan kemudian, menarik kembali memori yang pernah dilupakan, beberapa waktu sebelumnya.
Kembali ke masa lalu !
Itulah kisahnya.
Atau, kembali ke kebiasaan sebelumnya.
Itulah keadaannya.
Sebelum hal itu kejadian, sudah dipastikan, setidaknya, dalam retorikan pengkhotbah di atas mimbar, "ayo kita jaga kebiasaan positif selama ini..", atau "hati-hati, perjuangan sesungguhnya adalah sebelas bulan ke depan.."
Itulah retorikanya. Pengkhotbah, penceramah, ustadz, guru, atau orantua kita, senantiasa mengingatkan hal ini, dengan maksud dan tujuan, supaya kita konsisten menjaga amal-kebaikan yang sudah ditumbuhkembang dalam kurun sebelumnya.
Sejatinya, kita semua paham. Makna pesan, atau nasihat itu. Tetapi, hal yang menjadi sumber kebingungan itu, adalah mengapa 'hampir kebanyakan orang, melupakan pesan itu, dan malah kembali ke kebiasaan lama...'. Hampir bisa dihitung dengan jari tangan atau ditambah dengan hari kaki, jumlah orang yang masih konsisten dengan amalan sebelum ramadhan itu.
Gejala serupa inilah, yang kemudian, menarik kita, untuk melakukan perenungan, terkait psikologi-perubahan perilaku manusia. Pertanyaan pokok terhadap soalan ini, adalah "mengapa manusia, tampak mengalami kesulitan untuk berubah dan mengubah kebiasaan lama? dan mengapa proses pendidikan, kerap kali, hanya tampak dan muncul di sekitaran proses pendidikan itu sendiri ?"
Pertanyaan ini, sederhana, namun butuh kajian mendalam. Bukan hanya ada kaitannya dengan praktek pendidikan, tetapi juga dengan psikologi kepribadian, bahkan mungkin psikologi sosial.
Ok..untuk hal serupa itu, biarkan kalangan profesioal yang memberikan komentar, terhadap masalah-masalah serupa itu. Di ruang sempit ini, penulis, sekedar bermaksud untuk memancing dan memantik masalah saja, dengan harapan mendapat respon dari pihak yang kompeten dan berkepentingan dengan hal ini.
Ada pengalaman sedikit mengenai pendidikan, dan kalau dilihat dari aspek ini, tampaknya, hal ini ada kaitannya dengan psikologi-belajarnya itu sendiri. Satu sisi, ada indikasi, manakala belajar sekedar kognitif, dan atau aktivitas belajar, sekedar ritual-psikomotorik, dan bila semua hal itu, tidak melibatkan rasa dan penghayatan para pelakunya, maka perubahan perilaku dari hasil belajar itu, akan sulit diharapkan.
Sekali lagi. Bila saja, kita mengartikan ramadhan sebagai moment pendidikan, dan pendidikannya memakan waktu hampir sebulan penuh, maka aktivitas didalamnya adalah diharapkan mampu memberikan dampak nyata, terhadap perubahan perilaku pelakunya. Namun, bila kemudian, ternyata, selepas idul fitri itu, tidak ada perubahan nyata di dalamnya, maka ritualitas ramadhan itu, benar-benar, sekedar ada dalam kognisi dan ritual-kegiatan shaum, dan tidak sampai pada nilai imanan wahtisaban, iman dan ikhlas serta penuh penghayatan dalam proses menjalaninya.
Di sinilah problemnya !!
Tidak jauh berbeda dengan anak kita yang masih dibawah usia. Mereka semangat berpuasa. Menahan lapar dan dahaga, dan bahkan lebih rajin dari orang dewasa. Buktinya, mereka mau tarawih dengan rajin, dan mencatat isi khutbah tarawih, dan ditulis ulang dalam buku tugas dari sekolahnya.
Namun, seperti yang kita ketahui bersama. Mulai takbiran di sore hari, kebiasaan lama sudah mulai bermunculan lagi, dan esok hari serta hari-hari selanjutnya, kembali seperti sebelum ramadhan itu terjadi.
Pertanyaan pokoknya, lah....kok tak ada bekasnya, proses pendidikan Ramadhan yang baru saja, berlalu itu ?
sekali lagi, itulah problemnya !??
Melalui ruang kecil ini, mengamati kenampakkan kegamangan orang selepas Idul fitri ini, apakah sesuatu yang natural dan lumrah di mana-mana, atau ada sesuatu yang keliru dalam menjalankan amal ibadah selama shaum ramdhan tersebut ?
Bagaimana menurut pembaca ?

0 comments:
Posting Komentar