Just another free Blogger theme

Rabu, 18 Maret 2026

Sudah menjadi agenda tahunan, dan kerap menjadi isu tahunan, apakah awal ramadhan, dan lebaran itu, bersamaan atau berbeda-beda ?  Pertanyaan klasik, tapi kadang menjenuhkan. Klasik karena perdebatannya, masuk kategori, isu lama dan lama-banget.  Kemarin ada isu itu, tahun sebelumnya ada itu, dan bahkan, dulu-dulunya, pun, ada isu tersebut. 



Andaipun ada yang mencoba melihat perbedannya, paling dalam urusan sosial. Kalau dulu, kerap ada intrik di tengah masyarakat dan elit, kalau sekarang, sudah lebih cair dari tahun sebelumnya.  Pada saat ini, isi adanya perbedaan itu, kerap tidak menjadi intrik, dan konflik. Tidak lagi. Sudah merasa biasa, terbiasakan, dan dipaksa biasa, menghadapi situasi serupa ini.

Disebut menjenuhkan, karena isu dan penjelasannya pun, tidak banyak berubah. Alasan dan argumentasinya, tidak jauh berbeda daru tahun sebelumnya. Alasan itu, tentu sekitar "belum tampak", jauh dari indikator ketinggian yang ditentukan, sedangkan yang lainnya,  lebih menggunkan hisab dan bukan rukyah. 

Kemudian, di luar metode yang berbeda, ujung-ujungnya pihak pemerintah menyampaikan pesan, 'perbedaan ini, jangan dijadikan perpecahan, kita bersatu dalam keragaman".  Itulah pesannya, tidak  banyak berubah. Maka karena itu, argumentasi dan solusinya, sangat menjenuhkan. 

Sebagai masyarakat awam, tentu saja, masalah ini, bukan ranahnya untuk dipikirkan. tetapi, masyarakat awam pun, masih berhak untuk bertanya. Apa iya, kesimpulan dari hasil pemikiran para ilmuwan dan ulama ini, memang benar-benar tidak bisa dikompromikan ? dan akan tetap menjadi perbedaan, dan akan tetap menjadi hajat tahunan, dan tidak bisa distandarikan secara ilmiah, untuk jadi pegangan umat ?

Sekali lagi, perlu ditegaskan, bahwa perbedaan ini, sudah menjadi langganan tahunan, walau kadang menjenuhkan.  Peristiwa ini, sudah merasa biasa, terbiasakan, dan dipaksa biasa, menghadapi situasi serupa ini.

Hal yang paling lucu, setidaknya, kerap ada kejadian, opor sudah dimatangin, tahu-tahunya, lebarannya diundur ke hari esoknya lagi. Kecewalah sudah. Gak semangat lagi, lebarannya, karena 'aura' euporianya sudah terlewati.

Betul.  Masalah perbedaan ini, sudah tidak menjadi soal lagi, bagi masyarakat kita hari ini. Kendati ada kegaduhan pun, paling kegaduhan sesaat, untuk sekedar menghapus kebingungan, kapan mudik, kapan masak opor, kapan refreshing dan sejeninya. Karena, belum ada kepastian, biasanya tanggal-tanggal tersebut, haruslah ditangguhkan sesaat, untuk kemudian dirancang ulang, sesuai dengan keputusan Pemerintah, terkait akhir Ramadhan.

Bagi saya khususnya, mencermati hal serupa ini, kadang merasa bingung. Bingung karena tidak paham. Mungkin kalau pengetahuan astronomi, ilmu falak, ilmu hisab, tidak terlalu paham secara mendalam. Tetapi, kalau mengikuti perbincangan mengenai hisab rukyat, atau sidah itsbat, rasa-rasanya tidak terlalu ketinggalan. Minimalnya,  ikutan nongkrongin tv untuk sekedar ingin mendapat penjelasan dan kejelasan, sikap Pemerintah dalam penentian awal dan akhir Ramadhan.

Di balik itu semua, ada satu pertanyaan sederhana, yang mungkin, para pembaca atau ilmuwan, atau ulama dan kyai, bisa berbagi kisah dengan publik, mengenai hakikat dari  sidang itsbat tersebut.

Sidang itsbat atau penentuan hari, awal dan akhir Ramadhan (1 syawal), dilakukan tiap tahun. Pesertanya dari BMKG, BRIN, dan juga pengamat rukyah hilal Kementerian Agama yang pakar di bidang ini, termasuk perwakilan organisasi Islam yang memiliki dividi ruhkyah hilal.

Mereka berkumpul, dengan membawa data, dan kemudian mendiskusikannya.

Sampai pada level ini, setidaknya ada dua catatan penting, (1) kajian itu, bila disebut ilmiah,  dan bisa masuk kategori pemantauan gerak alami benda angkasa, mestinya, bisa dihitung pola dan pergerakannya, tentunya, ini sudah diketahui bersama, artinya, (2) kalau sudah bisa dihitung bersama, sejatinya, baik kalangan ilmuwan BRIN, BMKG, serta pengamat lainnya, jauh-jauh hari sudah bisa menghitungnya. Tentu saja, hal ini, sudah biasa di lakukan, maka karena itu, (3) tentunya, data dan kesimpulan sudah ada, dan bisa dipublikasikan, serta bisa jadi sudah tidak perlu untuk disidangkan ulang.

Hal yang menarik lagi, bila diperhatikan dengan seksama, perdebatan tahunan, terkait masalah ini, adalah perdebatan hasil pemikiran manusia. Hasil Ijtihad, dan bukan "wahyu".   Sekali lagi, tentu kita paham, bahwa landasan keilmuan dalam penentuan rukyat hilal ada landasan teologisnya, tetapi proses riset dan penentuan indikator imkanur rukyatnya, adalah sebuah keputusan ilmiah, atau ijtihad.

Bila kesimpulan ini benar, artinya, bahwa keputusan sidang Itsbat itu adalah Ijtihad, maka untuk mengambil keputusan bersama, bisa dilakukan dengan kompromi indikator secara keilmuan atau istilah lainnya perlu ada ijtihad baru, untuk menstandarkan pemikiran, supaya mendapatkan keputusan yang sama.

Benda angkasanya satu, tempat penelitiannya berbeda, bisa jadi, kalau metode dan ukurannya, beda, akan melahirkan keputusan  yang  beda. Tetapi, bila berijtihad untuk menggunakan ukuran yang sama, rasanya, tidak terlalu sulit, untuk mengambil keputusan yang sama, dan bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Bahkan, lebih jauh lagi, penentuan perubahan tanggal, tidak perlu dilakukan setiap tahun, di setiap akhir bulannya !


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar