Just another free Blogger theme

Rabu, 24 Agustus 2016

Soekarno, di jaman perjuangan, dengan retorikanya sendiri, mengatakan “berikan kepadaku, 10 orang pemuda, akan kuguncang dunia…” sebuah pernyataan dan sikap optimis, dan keyakinan kuat, akan peran dan fungsi pemuda dalam konteks perjuangan saat itu, dan masa depan bangsa.

Senin, 25 Juli 2016

Geotrek. Istilah ini mungkin belum banyak di kenal masyarakat. Tetapi, bagi pecinta lingkungan, atau lebi tepatnya lagi pecinta wisata geologi, akan mudah memahaminya. Geotrek adalah sebuah perjalanan, dengan maksud untuk berrekasi sambil memahami kenampakan gejala geologis di muka bumi. Istilah ini, saat ini, sudah mulai banyak dilakukan, dan diikuti oleh masyarakat umum, khususnya di kota Besar seperti di Bandung dan Jakarta.

Minggu, 27 Maret 2016


http://www.bstsolo.co.id/wp-content/uploads/2015/07/Aku berdiri di tepi pantai. Batas antara daratan dan lautan. Bahkan, terasa baur mengenai garis pemisahnya.  Saat deburan ombak, daratannya yang terseret. Saat surut, lautannyalah yang peras.

Minggu, 14 Februari 2016

Jika dihadapkan pada sejumlah kasus geografik, masalah nilai dan kebernilaian ini tidak dapat dengan mudah dipahami. Kita akan merasakan ada sesuatu yang masih perlu untuk dijelaskan secara berkelanjutan. Misalnya, apakah banjir, gunung meletus, atau gempa bumi adalah satu peristiwa yang tidak bernilai ? atau  malah, dapat disebut sebagai sesuatu yang bernilai ? darimana kita bisa melihat dan menjelaskan hal-hal serupa ini.

Minggu, 31 Januari 2016

“rugilah kita, bila kita menolak kebaikan. Abaikan motivasi pribadinya, karena sepanjang dia tahu posisi kita dihadapannya, maka kebaikan yang dia lakukan kepadamu adalah hadiah Tuhan untukmu melalui  tangannya…”

Jumat, 08 Januari 2016

Derek Gregory (1994) mengeluarkan buku dengan judul Geographical Imagination.[1] Karya ini mengingatkan kita pada The Sociological Imagination karya C. Wright Mill  yang pertama kali terbit 1959.[2] Kedua buku ini, menarik untuk dikaji, dan dapat dijadikan batu loncatan untuk memahami wacana yang akan kita ulas dalam buku ini, khususnya untuk memahami mengenai hakikat geografi, geografi implisit dan kecerdasan geografi. Pemahaman hal-hal tersebut tadi, akan kian kokoh bila kita dapat menarik manfaat dari konsep imajinasi geografi ini.

Selasa, 21 Juli 2015

Pengantar
Di zaman kita sekarang ini, isu mengenai sekolah berwawasan lingkungan (green school) sudah mulai memasyarakat. Setidaknya, itulah yang terjadi  di beberapa kota di Indonesia, termasuk di Kota Bandung. Isu pentingnya pendidikan berwawasan lingkungan, setidaknya diawali dengan adanya Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH), yang kemudian menjelma menjadi sebuah prinsip penyelenggaraan pendidikan berwawasan lingkungan.
Kendati demikian, seiring sejalan dengan perkembangan isu itu sendiri, ternyata, masih ada pandangan dan kebijakan yang sempit mengenai arti dari pendidikan berwawasan lingkungan tersebut.  Kita seringkali melihatnya, pendidikan berwawasan lingkungan itu, sekedar sekolah yang memiliki taman hijau, atau bersih dan sehat.
Pikiran seperti itu, benar, tetapi kurang tepat. Setidaknya, bila kita kaitkan dengan prinsip dari dari pendidikan lingkungan hidup itu sendiri. Karena pada dasarnya, untuk menjadi sebuah sekolah hijau, atau sekolah berwawasan lingkungan, ada beberapa komponen pokok yang perlu ditumbuhkembangkan di lingkungan sekolah tersebut.