Ada tradisi baru. Mungkin, karena di perkotaan. Sejak dini hari, sudah ada informasi, "bapak-bapak, ibu-ibu, sahur-sahuuuuuur..." sebuah pengingat, dari pengeras suara, dari kejauhan. Pagi ini, bukan di bulan Ramadhan. Suara itu, terdengar di pagi hari, jelang subuh, pada tanggal 9 Dzulhijjah. Sejak tinggal di Kota, suara ini, kerap terdengar di setiap tahunnya.
"inilah kebiasaan, warga di kompleks ini..." ujar seorang rekanan, yang tinggal tidak jauh dari mushala tersebut. Beberapa waktu yang lalu, sempat juga bertanya, apakah kebiasaan serupa ini, hanya terjadi jelang shaum 'arafah ? Sang penutur memberikan tanggapan lanjutan, bahwa tradisi membangun sahur shaum sunnah ini, kadang dilakukan pula, bila bertepatan dengan shaum daud.
"subhanallah.." demikianlah ucapan sebagian orang, saat mendengar kisah yang dituturkan di kompleks ini.
Kompleks ini, bukanlah kompleks pesantren. Kompleknya, tentu saja, adalah komplek orang kota, orang bernalar. Kegiatan hariannya pun, sangat beragam. Ada pekerja ekonomi kelas bawah, menengah, dan juga atas. Bahkan, pensiunan juga ada. O, iya, penganggunggaran pun, kadang bisa ditemukan pula, begitu pula, dengan warga yang nonmuslim. Bisa ditemukan di kompleks ini.
Tepat disekitaran rumah, diketahui pula, ada beberapa warga yang non-muslim. Tetapi, mereka nyaman hidup dan tinggal di kompleks lagi. Lagi pula, pengeras suara di mushalla ini, hanya terdengar nyaring saat adzan dan iqamah saja, atau kalau ada bewara yang hendak disampaikan kepada warga. Di luar hal-hal serupa itu, tetap saja, hening. Hanya, untuk keperluan tertentu, seperti membangun ibadah sahur shaum sunnah, kadangkala terdengar nyaring, membangun warga, yang hendak shaum, termasuk shaum 'arafah di tahun ini.
Pada konteks inilah, dan juga secara berkebetulan membukan karya akademik Yudi Latief, tentang Pendidikan Berkebudayaan, jadi ingat ucapan Soekarno pula, yang mengusung gagasan Ketuhanan yang Berkebudayaan.
Seiring selaras dengan gagasan itulah, dan juga memahami realitas kehidupan beragama di perkotaan inilah, muncul sebuah persetujuan terhadap gagasan dimaksud. Tampaknya, dengan suasana kehidupan beragama seperti inilah, terasa beragama secara berkebudayaan, atau lebih sempitnya juga berhaji secara berkebudayaan.
Konsep haji berkebudayaan ini, dimaksudkan untuk merangkum gagasan pentingnya pembumian nilai-nilai haji ke dalam konteks kehidupan sehari-hari. Haji dan berhaji, sebagaimana yang akan ditandai dengan puncak kegiatan wukuf di Arafah esok hari itu, diharapkan dapat diterjemahkan dan diaktualisasikan ke dalam kehidupan nyata, di masyarakat.
Dalam konteks inilah, hasrat dan harapan seseorang, untuk bisa meraih predikat haji mabrur, tidak sekedar menjadi legalitas-normatif teologis, melainkan perlu ditunjukkan dalam aksi-aksi faktual dalam keseharian. Sehingga makna haji mabrur, bukanlah konsep utopis atau konsep normatif-teologis, melainkan konsep sosiologis.
Implementasi dari haji mabrur sosial ini, seorang muslim yang pulang dari ibadah haji, bukan hanya membangun kesalehan individual atau personal, namun mampu mentransformasikan kesalehan individual menjadi sebuah kesalehan sosial. Kemampuan serupa inilah, yang kemudian diharapkan akan menjadi benih-benih kemuliaan hidup di tengah masyarakat.
Untuk sekedar contoh, wukud di Arafah, adalah momentum meditasi, refleksi dan muhasabah kolektif kemanusiaan. Kontemplasi kolektif-global inilah, yang perlu dilakukan oleh seluruh manusia. Termasuk Indonesia. Melalu perayaan shaum arafah, dan dalam waktu bersamaan orang lain menjalani ibadah wukuf di arafah, diharapkan dapat dijadikan sebagai momentum untuk melakukan refleksi kolektif-nasional-global, untuk menemukan kembali nilai-nilai esensial kemanusiaan, hidup di dunia ini.
bagaimana menurut pembaca ?

0 comments:
Posting Komentar