"sudah, diridhokan saja, semua ini sudah terjadi, dan kita harus menerima kenyataan ini.." nasihat, seorang tetua kepada generasi mudanya. Pesan itu, disampaikan, saat kenyataan pahit menimpa, dan diluar dugaan atau di luar pemikiran sebelumnya. Karena itu, sang Tetua memandang, bahwa kita semua harus meridhokan, kenyataan ini.
Ucapan itu terasa sederhana, dan sangat mudah meluncur dari lisan kita. Tentunya, sebagai orang yang tidak merasakan deritanya, akan dengan mudah, meluncurkan kalimat itu. Tetapi, bagi kita yang merasakan derita itu, misalnya, saat gagal dalam meraih cita, berpisah dengan orang yang dicintai, gagal menikahi seseorang, bencana kebakaran, atau ditinggalkan orangtua, maka derita-penyesalan sangat terasa hadir dalam emosi kita. Namun, sejumlah orang yang berada di luar kita, dan tidak menjadi bagian dari derita yang kita rasakan, dengan sangat mudah meluncurkan kata dan ucapan, yang disebutnya menjadi sebuah nasihat, supaya kita dapat dengan mudah untuk meridhokannya.
Lantas, muncul dalam jiwa ini, apa yang dimaksud keridhoan ? mengapa kita yang menjadi bagian dari derita, merasakan sangat sulit untuk menghadirkan keridhoan, sedangkan mereka yang tidak menjadi bagian dari derita, dengan mudahnya menasihatkan untuk segera melahirkan keridhoan dalam jiwa.
Dalam konteks itulah, saya ingin mengomentarinya, bahwa keridhoan itu, adalah kesiapan menerima atau melepas sesuatu yang menimpa.
Ada dua sisi penting, saat kita bermaksud untuk menemukan makna keridhoan. Kedua sisi ini, tidak boleh hilang salah satunya, dan harus hadir bersamaan, dalam satu konteksnya.
Seorang mempelai Perempuan, akan disebut pemilik keridhoan, manakala dia mau menerima kondisi, sikap, penampilan atau seluruh Riwayat hidup yang dimiliki mempelai pria. Pun demikian, seorang mempelai pria, disebut memiliki keridhoan, disaat dia siap dan mau menerima berbagai hal yang terkait dengan ukuran, sifat, dan keadaan dari mempelai Perempuan.
Keridhoan adalah sikap emosi. Tetapi, tidak cukup dengan sikap emosi. Saat seseorang diminta untuk menunjukkan sikap keridhoan, maka dirinya tidak hanya dituntut untuk bersikap, tetapi juga untuk bisa mengeluarkan pernyataan dan tindakan.
Keridhoan bukan soal kondisi mental atau bathin seseorang. Dalam konteks sosial, keridhoan perlu ditunjukkan dengan kejelasan dan ketegasan pernyataan dalam lisan. Lisan yang terlontar, merupakan gambaran mengenai struktur berpikir dan kondisi bathin seseorang. Dengan adanya pernyataan yang jelas, dan tegas, memberi ilustrasi mengenai kondisi bathin yang dimilikinya.
Radhitu billahi rabba, wabil Islami diina, wa bi muhammadin nabiyya wa rasulla. Saya Ridha, Allah Swt rabbku, dan Islam sebagai agamaku, serta Muhammad sebagai Nabi dan Rasul, teladan dalam hidupku. Pernyataan itu, adalah ikrar dari lisan, sebagai keridhoan.
Adalah tidak mungkin, kita akan mampu menunjukkan keberanian untuk melisankan itu, bila tidak diiringi dengan sebuah kesiapan mental. Andaipu nada yang mampu melantunkannya, maka nyanyian itu, adalah nyanyian kemunafikan dalam hidupnya. Kenampakkan sikap serupa itu, bisa saja dilakukan, dan bahkan, banyak yang bisa melakukannya.
Kemunafikan adalah bentuk lain dari ketiadaan keridhoan dalam diri seseorang. Kemunafikan menunjukkan posisi dan kualitas dirinya, tidak siap menerima sesuatu hal yang diharapkan bisa menjadi bagian dari kehidupannya.
Keridhoan adalah lawan dari kemunafikan. Lanjutan keberanian mengikrarkan keridhoan, ditanamkan dari akan kesiapan mental. Kesiapan mental inilah, yang menjadi fondasi kukuh, sebuah keridhoan hadir dan mengarakter dalam diri seseorang.
Kendati demikian, dua langkah serupa ini, belumlah dianggap mampu menunjukkan diri sebagai seseorang yang ridho.
“Ya Allah, saya ridho, anggota keluargaku, kau panggil hari ini…” ungkapnya, dengan penuh isak dan tangis.
Apakah dengan hal ini, tindakannya itu, sudah menunjukkan keridhoan ? atau lebih disebabkan sebagai bentuk penerimana karena sebuah keterpaksanaan ? bagaimana seseorang bisa disebut Ridha, bila keadaan yang ada saat itu, memang tidak kuasa diubahnya sendiri ?
Benar. Dalam konteks ini, sejatinya, keridhoan itu, adalah tindakan yang dilandasai oleh kesadaran-maksimal dari diri seseorang, dalam menerima sebuah kenyataan, padahal disaat yang bersamaan, sejatinya masih bisa diubah olehnya. Sementara, bila keadaan itu, tidak bisa diubahnya, dan dirinya sekedar bisa menerima kenyataan itu, maka keridhoan itu, lebih merupakan keridhoan pasif dalam hidupnya. Ridho dalam menerima kenyataan.
Sekali lagi, perjalanan ini menghantarkan kita pada satu terminal spiritual baru. Bahwa dalam kehidupan ini, ada posisi keridhoan pasif, yakni keridhoan dalam posisi menerima kenyataan, yang sudah tidak bisa diubahnya.Kewajiban kita, adalah menerima dengan Ikhlas, terhadap kenyataan itu.
Ridho menerima rezeki yang ada. Ridha menghadapi musibah dan bencana. Ridho menerima perlakuan factual dari orang lain terhadap dirinya. Semua itu, adalah keridhoan pasif, yakni keridhoan dalam menerima kenyatan hidup, yang menimpa dirinya hari itu.
Pada sisi lain, ada keridhoan aktif, yaitu ridho untuk melakukan sesuatu hal. Keridhoan ini, adalah kesiapan mental, pikiran dan tindakan untuk menerima sejumlah ujian, sesuai dengan keadaan yang ada dan diterima hari ini.
Seorang hamba, Ridha islam sebagai agamanya. Maka karena itu, dia akan berusaha keras untuk mempelajarinya, dan melakukan sejumlah aksi dan tindakannya, sesuai dengan syari’at agama Islam. Itu adalah wujud dari keridhoan aktif.
Seorang lelaki, ridho menerima Perempuan pilihan orangtuanya, untuk dijadikan istrinya. Keridhoannya itu adalah kesiapan mental, menerima keadaan, dan berusaha keras untuk merancang kegiatan positif yang diharapkan mampu membangun keluarga Sakinah ma waddah wa Rahmah.
Keridhoan ini, merupakan bentuk kesiapan mental dengan menerima yang ada, sebagai modal hidup dan meraih cita sebagai Impian hidupnya. Keridhoan aktif, tidak mengeluhkan keadaan, melainkan memanfaatkan keadaan sebagai bekal perjalanan dalam mengaruhi kehidupan di masa depan.
Adalah keliru, bila pernyataan keridhan yang sudah dilisankan tempo hari, kemudian diwarnai keluhan dan penyesalan hari ini, karena menemukan haling rintang dalam kehidupannya. Keluhan dan penyesalan yang ada hari ini, dapat dimaknai sebagai indikasi keridhoan palsu, dan lebih diwarnai oleh kesalahan makna mengenai keridhoan, dalam hidupnya.
Andai saja, ada perasaan, “dulu saya, tidak tahu terkait hal ini, dan salah prediksi..” , sesalnya. Pernyataan itu, dianggap sebagai alasan untuk mensahkan ketidakridhoan dirinya, dalam menghadapi kenyataannya. Dia merasa, bahwa telah salah paham terhadap pasangannya, dan memandang buta dalam mengarikan cinta di masa lalunya, sehingga dirinya, hari ini, mengeluhkan dan menyesalkannya.
Ada dua hal pokok yang, yang bisa dijadikan akar persoalan dalam sikap itu. Orang tersebut, salah paham dalam mengartikan kenyataan hidup. Sejatinya, tidak ada orang yang mengetahui dengan pasti, potensi hal baru di hari depan. Karena itu, muncul dan ditemukannya hal baru dari sikap, karakter dan perkembangan hidup pasangan hidup, adalah Sesutu hal yang wajar, dan adalah keliru, bila dianggap sebagai alasan untuk mensahkan ketidakridhoaannya.
Pada sisi lain, dia sudah salah mengartikan Keputusan mengenai penerimaan terkait pasangan hidup. Menerima pasangan hidup itu, perlu diposisikan sebagai bentuk keridhoan akif, dan bukan pasif. Artinya, keridhoan seseorang dalam menerima keadaan pasangan hidup, baik sebagai istri maupun suami, adalah ridho untuk menerima sesuatu hal yang akan terjadi di masa depan.
Keridhoan aktif dihadirkan sebagai bentuk aktif dan inovatif, untuk meraih hikmah hidup, dari sebuah bencana sekalipun. Karena sejatinya, kematian dan kehidupan, adalah ciptaan Tuhan yang diposisikan sebagai batu uji kepada manusia, dan manusia akan dinilali dari ikhtiar terbaiknya (ahsanu ‘amala).
Tindakan terbaik dalam menghadapi kenyataan, adalah bentuk lain dari sikap ridho aktif dalam menghadapi kenyataan. Orang yang ridho secara aktif, segala sesuatu yang ada, ujian atau pujian, musibah atau berkah, semuanya perlu dihadapi secara positif, sehingga melahirkan sebuah nilai pematangan dan pendewasaan hidup.
bagaimana menurut pembaca ?

0 comments:
Posting Komentar