Tidak ada manusia yang sempurna. Kira-kira, demikianlah ucapan kebanyakan orang. Kalimat itu, bisa dikatakan sebagai pernyataan normatif, dan bisa pula sebagai upaya pembelaan diri.
Pernyataan yang bisa dikategorikan sebagai pernyataan normatif, karena mengandung makna yang sulit diukur, dan mudah dipahami. Persoalan itu, akan mudah memancing perdebatan panjang, dan berkelanjutan, bila kemudian, mempertanyakan indikator dari manusia sempurna. Terlebih lagi, bila dikaitkan dengan indikator, tidak ada catat, atau kelemahannya. Maka, untuk ukuran serupa itu, tidak akan ada manusia yang sempurna. karena itulah, pernyataan itu, masuk kategori pernyataan normatif, atau bersifat umum.
Di balik itu, pernyataan tersebut bisa dipandang sebagai upaya pembelaan diri. Membela diri, dari serangan atau kritikan orang lain. Upaya pembelaan diri ini pun, cenderung bersifat pragmatis, atau untuk segera mengalihkan pembicaraan. Artinya, terus bagaimana lagi, kalau memang, ada kekeliruan, atau ada kelemahan, atau cacat, harus bagaimana lagi ? apakah, kita harus mengeluhkan kondisi tersebut ?
Misalnya hari ini, kita dihadapkan pada situasi, memiliki rekanan, temanan, partneran, atau mitraan, yang memiliki karakter suka marah-marah, mengeluh, dan hobinya menyalahkan orang lain, apa yang harus dilakukan ?
Bukankah kita, pernah dihadapkan pada pimpinan yang hobi marah-marah. Tidak pernah mau mengerti kesulitan bawahan, tidak pernah mau mengerti kerja keras bawahan, sekali ada kesalahan kecil, langsung meledak amarahnya. Marah diluar kendali, dengan bahasa yang sangat tidak enak di dengar, namun, kemudian malah dinormalisir sebagai bentuk keterbukaan. Bagaimana kita menghadapi situasi serupa itu ?
Sebagai orang terdekat, kadang kita pun, dibuatnya risih. Dikit-dikit marah, dikit-dikit mengkritik orang lain, andaipun tidak merasa marah dan mengkritiknya, tetapi pilihan katanya, cenderung atau tendensius menyalahkan orang lain. Bila kita berhadapan dengan orang serupa itu, kadang kita cape, lelah, dan juga menjengkelkan.
Bila dihadapkan pada situasi ini, dan kita gamang dalam menentukan sikap atau pilihannya, bukan hal mustahil, kita akan menderita sendiri. Derita bukan karena masalah psikologis orang lain, tetapi menderita karena kita mengalami gangguan psikis, dalam menghadapi situasi orang lain.
Entahlah. Dengan situasi serupa ini, kadang jadi inget pepatah tenaga kesehatan di ruang perawatan. "Pa, Bu, sebagai orang yang menemani pasien, jagalah kesehatan kita, jangan sampai kita sakit, saat menemani orang sakit..".
Nasihat yang luar biasa. Sederhana, namun mengena. Nasihat itu, mengingatkan kita, bahwa pasien itu, bukan hanya ada diranjang rawat inap, tetapi pasien itu ada disekitar kehidupan kita. Mereka ada, bahkan berkeliaran. Orang yang terbaring di kamar rawat inap, adalah orang yang sakit fisik, sedangkan yang berkeliaran di sekitar kita, adalah pasien yang menderita sakit jiwa. Karena itu, manakala kita, kedapatan harus menemani orang-orang seperti itu, maka perlulah kita menjaga mentalitas dan emosi kita, supaya tetap sehat.
Sangatlah sedih dan memprihatinkan, bila menenami orang yang sakit jiwa, malah kemudian kita, yang semula adalah orang sehat, malah kemudian menderita stress dan depresi menghadapi orang yang stress dan depresi. Karena sejatinya, memarahi orang yang suka marah-marah, tidaklah produktif. Stress merawat orang stress, pun, tidak menyehatkan kita. Mengkritisi orang yang hobinya mengkritik, juga malah menyebabkan mental kita kritis.
Perlu ditemukan jalan lain, jalan keluar, yang diharapkan mampu mengatasi masalah ini. Salah satu diantara yang bisa dilakukannya adalah hadirkan diri kita sebagai pribadi yang netral, normal atau biasa saja. Teknik atau pendekatan ini, biasa disebut Gray Rock, atau batu-abu-abu.
Batu abu-abu, adalah posisi tidak menunjukkan keberpihakan dan atau penolakan. Datar saja. Respon secara datar, dengan ucapan pendek, sehingga tidak menyebabkan perdebatan sia-saia yang berkelanjutan. Bahkan, kalau perlu, segera alihkan ke pembicaraan lain, dengan maksud dan harapan, si penderita tidak larut dalam emosinya. Dengan kata lain, bukan cuek, teknik gray rock adalah tindakan operasional, yang bisa dilakukan dalam mengatasi situasi serupa itu.
Dalam konteks itu pula, kadang melakukan perdebatan dengan orang seperti itu, adalah kelakuan yang tidak diperlukan. Ketidakpatutan untuk berdebatan itu, karena si penderita itu, sedang tidak menggunakan nalar-sehatnya, tetapi lebih mengedepankan emosinya. Sehingga, mendebat atau membantahnya, hanya akan menyebabkan kelelahan pada diri kita.
Andaipun, hendak memberikan masukan, lakukan disaat, emosinya sedang stabil, dan atau kondisinya sedang membahagiakan. Di situasi ini, ada peluang, nasihat kita akan mudah diterimanya !

0 comments:
Posting Komentar