Bukan untuk yang pertama kalinya pengalaman tidak mendapatkan bagian daging kurban. Kiranya bukan hanya satu atau dua orang, tapi cukup banyak orang yang tidak kebagian kurban. Bagi kita yang ada di satu kompleks saja, tidak semua warga kebagian jatah daging kurban. Tidak semua. Selalu ada saja warga yang tidak kebagian kurban.
Kalau kita jadi panitia, seperti panitia kurban di dekat rumah, tentu kita akan kebagian daging kurban. Pasti, kebagian. Hal yang berbeda dari tahun ke tahun, jumlah bungkusan atau timbangan daging kurban yang diterimanya. Sebagai panitia, tentu saja, akan mendapatkan jatah daging kurban.
Lantas, bagaimana jika dalam satu waktu, kita tidak kebagian pembagian daging kurban ? pertanyaan yang sesungguhnya tidak mesti dipertanyakan. Disebut demikian, karena sejatinya memang tidak perlu ditanyakan. Ada alasan pokok yang menjadi memosisikan masalah itu, menjadi bukan sebuah pertanyaan. Alasan tersebut, yakni adanya keterbatasan jumlah daging kurban yang ada. Sehingga kelompok warga yang mendapat bagian daging kurban, akan disesuaikan dengan jumlah daging hewan kurban yang tersedia.
Dengan argumentasi serupa itu, warga akan dengan mudah menerima penjelasannya. Persoalan yang agak butuh penjelasan adalah ketika ada warga yang biasa menerima bagian daging kurban, dan rumahnya tidak jauh dari lokasi kegiatan penyembelihan hewan kurban, dan bahkan turut membantu kegiatan perayaan kurban, namun tetap tidak mendapat jatah daging kurban tersebut ?
Untuk menjelaskan hal ini, setidaknya ada dua hal pokok yang perlu didiskusikan. Pertama, dilihat dari hakikat kurban itu sendiri. Dari satu kompleks, tempat tinggal kita, patut kita bersyukur gairah berkurban masih tinggi. Dengan adanya mudhahi atau orang yang berkurban, baik sendirian maupun berkelompok, kemudian menyebabkan ada kegiatan penyembelihan hewan kurban di sekitar kita. Rasanya, sampai pada titik ini, kita patut bersyukur. Bayangkan jadinya, bila kesadaran berkurban itu rendah, maka di tempat sekitaran kita, tidak ada kegiatan perayaan penyembelihan hewan kurban.
Pertanyaan klasik yang kerap muncul ke telinga kita, "bagaimana di sekitaranmu, ada yang kurban ? berapa hewan kurbannya ?" sebuah pertanyana klasik, tetapi menarik, karena akan menunjukkan ilustrasi kegairahan warga terhadap praktek ibadah kurban itu sendiri. Persepsi publik semakin banyak hewan kurban yang disembelih, menunjukkan kepatuhan dan kegairahan dalam beribadah semakin tinggi.
Bila saja, orang lain mampu menunjukkan kegairahan berkurban harta, dengan menyerahkan sebagian kekayaannya untuk berkurban, lantas bagaimana posisi kita yang tidak berkurban ? di sinilah, letak strategisnya penghayatan diri dalam kegiatan ini. Ketua panitia penyelenggara kegiatan di sekitaran kompleks memberikan arahan, "bila orang lain memberikan sebagian hartanya untuk berkurban, marilah kita berkurban waktu dan tenaga untuk menyukseskan kegiatan ini.." tuturnya.Ajakan dan narasi yang menarik untuk direnungkan. Kita bisa mendapatkan inspirasi praktis dalam menjalani tugas dan kewajiban kita dalam kegiatan praktik ibadah kurban ini.
Hal kedua, ada arahan untuk bisa memahami makna ikhlas. Sekali lagi, bila kita, atau keluarga kita, walau dalam posisi jadi panitia kegiatan sekali pun, rasanya perlu menunjukkan sikap ikhlas dalam menjalani kehidupan ini. Termasuk diantaranya adalah ikhlas menerima kenyataan tidak menerima bagian daging hewan kurban.
Ikhlas dalam konteks ini, yakni kesediaan untuk menerima sesuatu yang menimpa. Ikhlas adalah kondisi bathin, kondisi ruh, kondisi emosi atau kondisi kejiwaan dalam menghadapi kenyataan yang menimpa diri kita. Saat membincangkan masalah ini, kita diajak untuk menyelami maqam keikhlasan.
Pada level pertama, ada keikhlasan yang dilakukan karena keterpaksaan atau ketidakberdayaan. Istilah lainnya, harus ikhlas untuk menerima beban (takalluf). Kategori ini, kadang disalahtafsirkan sebagai pelarian. Padahal bukan pelarian. Tetapi upaya positif dalam memaknai kehidupan, dengan maksud dan tujuan untuk bisa melanjutkan perjalanan.
Satu waktu, anda mau melakukan perjalanan. Lantas orangtua memberi bekal seadanya, tetapi memberi tugas sebanyaknya. Pilihannya hanya ada dua, menolak dan menghindarinya, atau menerima dengan keikhlasannya. Kombinasi kedua hal itu, akan memberikan beban mental yang teridapnya, misalnya dengan mengambil langkah menerima tanpa diimbuhi dengan keikhlasan.
Karena tidak ada pilihan lain yang lebih baik, maka terpaksa menerima beban itu. Namun, untuk meningkatkan makna perjalanan itu, maka kita dipaksa secara sadar membangunkan kesadaran dan keikhlasan dalam menjalani amanah itu. Inilah yang disebut keikhlasan dengan keterpaksaan atau dalam posisi ketidakberdayaan.
Pada sisi lain, ada pilihan lain, yaitu ikhlas dengan ruang pilihan yang terbuka. Bila saja, posisi kita masih memiliki daya tawar, maka keikhlasan yang dimiliki itu, naik maqam ke posisi ikhlas karena kesadaran(ikhtiyari).
Bermodalkan kesadaran serupa itu, walau menjadi panitia sekalipun, ada yang merasa ikhlas tidak kebagian daging hewan kurban. Bahkan, dia merelakan jatah kepanitiaannya untuk dibagikan kepada orang lain, yang lebih membutuhkan. Kesadaran inilah, yang disebut, ikhlas untuk melakukn kebaikan, dan itulah kemerdekaan ruh yang sejati.
Bagaimana menurut pembaca ?

0 comments:
Posting Komentar