Sebuah perjalanan spiritual agung, dialami seorang Muslim, dalam 6 bulan terakhir. Perjalanan spiritual ini, bermula dari rajab, sya'ab, sampai dzulhhijjah. Secara umum, dua perjalanan awal puncaknya di Ramadhan atau idul fitri. Sedangkan, dua bulan berikutnya, adalah menuju idul adha.
Lantunan doa, yang dilisankan seorang Muslim di bulan Rajab.
Rintihan spiritual, hasrat religius atau impian seorang musafir dalam kehidupan. Impiannya adalah sampai pada bulan ramadhan, yang merupakan bulan penyucian, atau pembakaran dosa, sehingga melahirkan dan menghadirkan kesucian (fitri). Tidak ada satu hal lainpun, yang didambakan seorang muslim, kecuali kondisi ruh yang suci. Perjalanan ramadhan yang bisa dikhatamkan, memiliki peluang dan potensi, menghadirkan kesucian jiwa, baik seorang hamba yang baru dilahirkan dari kandungan sang Bunda.
Adalah menarik untuk dicermati. Perjalanan spiritual seorang Muslim itu, setelah suci, masih harus dilanjutkan pada upaya sungguh hati (mujahadah) untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Mungkin, sebagian diantara kita, ada yang merasa sudah sampai pada puncak spiritual, dengan mendapatkan kefitrian. Atau, ada dari sebagian diantara kita, yang merasa bahwa perjalanan sunah berakhir dengan didapatnya, di fase kesucian.
Akhir dari perjalanan takhaliyyah, adalah idul fitri, atau kondisi kesucian atau kefitrahan. Itulah, hasil usaha seorang musafir dalam membersihkan jiwa dan ruhnya.
Di sinilah problemanya. Kesucian sudah didapatkan. Namun bila kesucian itu, malah kemudian menjauhkan diri dari Allah Swt, maka kesuciannya bisa menjadi petaka dalam hidupnya, dan menjadi berhala bagi dirinya. Karena itu, upaya sadar yang harus dilakukan itu, adalah dengan berbekal kesucian, seseorang dituntut untuk berusaha keras mendekatkan diri kepada Allah Swt. Perjalanan itulah, yang disebut perjalanan berkurban, dan dirayakannya di idul adha.
Pendek kalimatnya, namun memancing kegelisahan diri. Karena ada ungkapan pendek dari Sang Khatib itu, yang seakan berbicara kepada kita semua, seakan-akan mengingatkan kita -begitulah pikiranku saat itu- mendorong penulis untuk melanjutkan hipotesisnya.
Hipotesis yang dimaksudkan itu, dari kesimpulan akhir khutbah itu, seakan memberi ruang kepada kita, bahwa kehidupan ini, bisa jadi ada fenomena (1) ada orang suci jiwanya, dan dekat dengan Alah Swt, (2) ada orang yang suci jiwanya, namun jauh dengan Allah Swt, (3) ada yang kotor jiwanya, dan jauh dari Allah Swt. Kategori keempatnya, masih prasangka yang sulit untuk dibuktikan, yaitu ada orang yang kotor jiwanya, tetapi dekat dengan Allah Swt.

0 comments:
Posting Komentar