Just another free Blogger theme

Selasa, 26 Mei 2026

Sebuah perjalanan spiritual agung, dialami seorang Muslim, dalam 6 bulan terakhir. Perjalanan spiritual ini, bermula dari rajab, sya'ab, sampai dzulhhijjah. Secara umum, dua perjalanan awal puncaknya di Ramadhan atau idul fitri. Sedangkan, dua bulan berikutnya, adalah menuju idul adha.


Lantunan doa, yang dilisankan seorang Muslim di bulan Rajab.

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ
Allahumma bârik lanâ fî rajaba wasya'bâna waballighnâ ramadlânâ
"Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta sampaikanlah kami ke bulan Ramadan." 
Rintihan spiritual, hasrat religius atau impian seorang musafir dalam kehidupan. Impiannya  adalah sampai pada bulan ramadhan, yang merupakan bulan penyucian, atau pembakaran dosa, sehingga melahirkan dan menghadirkan kesucian (fitri). Tidak ada satu hal lainpun, yang didambakan seorang muslim, kecuali kondisi ruh yang suci. Perjalanan ramadhan yang bisa dikhatamkan,  memiliki peluang dan potensi, menghadirkan kesucian jiwa, baik seorang hamba yang baru dilahirkan dari kandungan sang Bunda.
Perjalanan ini, ternyata belum berakhir. Raihan kesucian dalam jiwa, bukan akhir dari perjalanan spiritual. Sang Musafir, masih terus melakukan perjalanan, pada fase berikutnya. Fase ini, adalah fase perjalanan spiritual menuju puncak spiritual lainnya.
Adalah menarik untuk dicermati. Perjalanan spiritual seorang Muslim itu, setelah suci, masih harus dilanjutkan pada upaya sungguh hati (mujahadah) untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Pengalaman nyata seorang Ibrahim As, dikenali sebagai insan yang hanif, suci, bersih dan lurus. Namun ternyata, kesucian dan kebersihan saja, tidaklah cukup. Untuk menjadi pribadi muslim yang agung, dan mulia di sisi Allah Swt, kesucian yang sudah didapatkan ini, harus diisi dengan upaya sungguh hati untuk dekat dan tetap dekat dengan Allah Swt.
Mungkin, sebagian diantara kita, ada yang merasa sudah sampai pada puncak spiritual, dengan mendapatkan kefitrian. Atau, ada dari sebagian diantara kita, yang merasa bahwa perjalanan sunah berakhir dengan didapatnya, di fase kesucian. 
Untuk meminjam paparan dari kalangan Sufi, Ramadhan tak ubahnya sebagai upaya sadar seseorang untuk mengosongkan diri dari perbuatan tercela. Fase ini, biasa disebut fase takhaliyyah. Melalui Ramadhan, seseorang berusaha untuk mengikis, menghapus, menghilangkan dan mengosongkan jiwa dari sikap, pikiran, emosi dan tindakan tercela.
Akhir dari perjalanan takhaliyyah, adalah idul fitri, atau kondisi kesucian atau kefitrahan. Itulah, hasil usaha seorang musafir dalam membersihkan jiwa dan ruhnya.
Masalahnya, kain bersih atau kaca bersih, atau air bersih itu, mau diapakan ? akankah dibiarkan saja ? bila dibiarkan apa adanya, akankan kondisi suci atau fitri itu, akan tetap begitgu adanya ?
Di sinilah problemanya. Kesucian sudah didapatkan. Namun bila kesucian itu, malah kemudian menjauhkan diri dari Allah Swt, maka kesuciannya bisa menjadi petaka dalam hidupnya, dan menjadi berhala bagi dirinya. Karena itu, upaya sadar yang harus dilakukan itu, adalah dengan berbekal kesucian, seseorang dituntut untuk berusaha keras mendekatkan diri kepada Allah Swt. Perjalanan itulah, yang disebut perjalanan berkurban, dan dirayakannya di idul adha.
Perayaan idul qurban hari ini, 1447 H, merupakan momen ketersadaran diri, terkait pentingnya, diri kita, untuk terus melakukan perjalanan spiritual lanjutan. Khatib di hari raya idul adha hari ini, yaitu Bambang Q. Anees, yang khutbah di Masjid Manunggal Kota Bandung, memantik pikiran dengan kalimat pendek diakhir khutbahnya. "jika idul fitri adalah upaya kita, untuk menyucikan diri, sedangkan idul adha, adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt".
Pendek kalimatnya, namun memancing kegelisahan diri. Karena ada ungkapan pendek dari Sang Khatib itu, yang seakan berbicara kepada kita semua, seakan-akan mengingatkan kita -begitulah pikiranku saat itu- mendorong penulis untuk melanjutkan hipotesisnya.

Hipotesis yang dimaksudkan itu, dari kesimpulan akhir  khutbah itu, seakan memberi ruang kepada kita, bahwa kehidupan ini, bisa jadi ada fenomena (1) ada orang suci jiwanya, dan dekat dengan Alah Swt, (2) ada orang yang suci jiwanya, namun jauh dengan Allah Swt, (3) ada yang kotor jiwanya, dan jauh dari Allah Swt. Kategori keempatnya, masih prasangka yang sulit untuk dibuktikan, yaitu ada orang yang kotor jiwanya, tetapi dekat dengan Allah Swt.

 Bagaimana menurut pembaca ?


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar