Salah satu wacana yang biasa dan akan muncul, di seputaran perayaan idul adha, adalah bagaimana implementasi pengakuan terhadap hak-hak hewan ?
Seperti yang terjadi hari ini. Muncul ketusan, "kasihan, sapinya..." ungkap seorang ibu, saat menyaksikan prosesi penyembelihan hewan qurban. Mendengar ungkapan itu, langsung sebagiannya lagi, nyeletuk, "memang itu, takdir sapi, begitu..."
Sampai pada pandangan itu, bisa jadi, kita terenyuh, dengan dialog pendek para penyaksi perayaan idul adha. Tentu, kita bisa saja, bertanya, dan melanjutkan diskusi itu. Namun, mungkin menjadi tidak elok, karena masalah suasana faktualnya saja. Karena itu pula, maka hal yang bisa dilakukan itu adalah melakukan refleksi terkait dengan dialog pagi itu, di suasana idul adha tersebut.
Ekspresi yang pertama, menunjukkan ada gerak nurani dalam diri seorang ibu, menyaksikan nasib atau 'pengalaman hidup' dari sapi. Dia datang dari peternak, kemudian berinteraksi dengan sang pembeli beberapa hari, sampil tidak menyadari terhadap nasibnya dalam 24 jam ke depan. Tanpa disadari, atau mungkin sapi pun sadar-diri sebagai hewan, dengan kualitas kesadaran-kesapiannya (ruh hayawani), sehingga cenderung nurut dan patuh kepada peternak atau pembelinya. Dijemput dengan penuh ceria, diantarkan dengan rasa sukarela, karena sudah terjadi transaksi antara peternak dan pembeli.
Belum ditemukan, penelitian ilmiah terkait dinamika ruh-kesapian (ruhul hayawani), di fase-fase jelang idul adha ini. Hewan datang tanpa ada prasangka-buruk apapun. Bahkan, beberapa hari di lingkungan si pembeli pun, atau di tempat panitia penyembelihan hewan qurban pun, masih mendapat pakan. Kendati seadanya, dan atau sekadarnya saja. Pikiran si pemilik barunya, yang penting sehat dan kuat untuk satu hari mendatang, di hari penyembelihan hewan qurban.
Di saat idul adha, untuk konteks perayaan di masyarakat, sang Sapi dikerubungi oleh banyak orang. Mereka berkumpul. Panitia penyelenggara, pekurban (mudhahi), dan juga penyaksi. Kelompok penyaksi itu, adalah jama'ah dari kompleks atau lingkungan masjid tersebut. Dalam prakteknya, kemudian muncul sejumlah petugas, dengan membawa sejumlah tali-tambang, dengan maksud untuk menelikung sapi, untuk sekedar bisa menjatuhkannya ke tanah.
Bagaimana bila sulit dijatuhkan ? sang Sapi melakukan perlawanan ? maka, dapat disaksikan bersama, perpaduan antara nafsu menjatuhkan, kekhahwatiran atau kegetiran, menuntun para pelaku, jagal dan para pembantunya, akan menjatuhkan sapi dengan ragam cara. Pada kejadian tertentu, bahkan sapi pun, ada yang tetap melakukan perlawanan. Bukan perlawanan karena menentang di sembelih. Bisa jadi, bukan itu alasannya. Tetapi, sapi melakukan perlawanan untuk dijatuhkan, karena bagi dirinya, bukan waktunya untuk istirahat dan jatuh.
Situasi serupa itu, kemudian melahirkan drama yang membuat sang ibu merasa teriris hatinya. Pejagal dan para pembantunya, seakan-akan mengeluarkan segala cara, apapun caranya, yang penting, sang Sapi terjatuh. Sejumlah tali beterbangan dan tenaga para pejagal pun demikian dengan pembantunya, dikeluarkan secara maksimal. Kendati harus membutuhkan waktu beberapa menit kemudian, pada akhirnya, sapi pun mengalami kelelahan, tidak berdaya, menyerah pada keadaan, dan terjatuh. Sapi terjatuh dengan posisi sebagaimana diskenariokan oleh orang-orang yang ada di sekitarnya.
Kembali lagi, muncul sebuah pertanyaan, apakah, dalam situasi itu, ada hak-hak sapi atau lebih umum, hak-hak hewan yang harus diperhatikan ?
Tentu saja, iya. Ada hak hewan yang harus diperhatikan. Hak-hak dasar sapi itu, misalnya, hak nyaman, hak aman, hak perlakuan yang santun, menjadi bagian mendasar bagi sapi. Artinya, sapi butuh lingkungan yang kondusif, tidak ramai, dan apalagi dijadikan sebagai tontotan yang membuatnya berisik. Kegaduhan dan kebisingan, adalah satu sisi eksternal yang bisa menyebabkan kegelisan pada sapi, dan pada ujungnya, mengalami stress.
Dalam satu konteks, praktek perayaan idul adha ini, bukan sekedar praktek ibadah tetapi juga bagian dari pembelajaran. Karena sifatnya pembelajaran, maka sejumlah warga masyarakat dan bahkan pequrban (mudhahi) termasuk juga peserta didik di lingkungan pendidikan, diharapkan bisa menyaksikan prosesi penyembelihan hewan qurban.
Niat dan tujuan dari kegiatan itu mulia. Namun, sekali lagi, bila kita hilap terhadap prosedur perlindungan terhadap hak-hak hewan, maka kegembiraan kita, berdampak pada kegelisahan dan kegetiran pada hewan qurban itu sendiri. Bahagianya para penyaksi prosesi penyembelihan qurban, beririsan dengan hilangnya kenyamanan pada hewan qurban.


0 comments:
Posting Komentar